Spionase Siber Tak Lagi Sekadar Mencuri Data
- IT PRO
VIVA - Bayangkan ada penyusup yang berhasil masuk ke sebuah gedung tanpa membobol pintu, lalu bersembunyi di ruang mesin dan tetap berada di sana meski seluruh ruangan sudah diperiksa. Dalam dunia digital, gambaran semacam ini kurang lebih menjelaskan bagaimana spionase siber modern bekerja.
Penyerang atau hacker tidak selalu datang dengan malware yang langsung terlihat. Mereka bisa mencari celah di lapisan sistem yang jarang diperhatikan, mempertahankan akses selama mungkin, kemudian mengambil informasi secara perlahan.
Bahkan, pada kasus tertentu, serangan bisa dilakukan sebelum sistem operasi komputer benar-benar berjalan. Teknik seperti ini membuat perang siber berkembang jauh melampaui urusan virus komputer atau pencurian password.
Penyerang kini mengeksplorasi firmware, perangkat seluler, mobil, konsol game, hingga sistem berbasis kecerdasan buatan (AI).
Salah satu teknik yang menarik perhatian adalah UEFI bootkit. UEFI merupakan perangkat lunak yang bekerja pada tahap awal ketika komputer dinyalakan, sebelum sistem operasi mengambil alih.
Jika penyerang berhasil menanamkan kode berbahaya di lapisan ini, mereka berpotensi mendapatkan pijakan yang lebih dalam dan membuat mekanisme keamanan di tingkat sistem operasi menjadi kurang efektif.
Persoalannya, teknik tersebut bukan lagi sekadar teori di laboratorium. Menariknya, teknik serangan canggih tidak hanya menyasar komputer milik pemerintah atau perusahaan besar. Perangkat yang digunakan sehari-hari juga menjadi medan eksplorasi baru.
Mobil, misalnya, kini pada dasarnya merupakan komputer berjalan dengan banyak sistem digital di dalamnya. Head unit berbasis Android menjadi salah satu komponen yang dapat menjadi sasaran.
Dunia game juga menghadirkan persoalan serupa. Konsol modern memiliki sistem keamanan yang dirancang untuk membatasi akses tertentu.
Namun, penelitian keamanan menunjukkan bahwa mekanisme tersebut dapat dieksplorasi untuk menemukan cara menjalankan perangkat lunak yang sebenarnya tidak dirancang untuk berjalan di dalam konsol.
Perangkat hiburan rumah juga tidak luput. Alex Turing dari XLab akan memaparkan analisis mengenai Kimwolf, botnet Android TV yang disebut memiliki kapasitas hingga 31,4 Tbps.
Botnet dapat dipahami sebagai kumpulan perangkat yang telah terinfeksi dan dikendalikan oleh pihak lain. Semakin banyak perangkat yang berhasil dikuasai, semakin besar sumber daya yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas tertentu, termasuk serangan siber berskala besar.