Kondom, Seks Bebas dan Simbol Ketidaksetiaan

Ilustrasi kondom/alat kontrasepsi.
Sumber :
  • Pixabay/Anqa

Pandangan tersebut juga dibenarkan oleh Psikolog Elizabeth Santoso atau biasa dikenal dengan Psikolog Lizzie. Menurutnya hal-hal berbau seks, alat kontrasepsi, masih menjadi hal tabu untuk dibicarakan di depan umum, sehingga masyarakat cenderung menekan hal-hal berbau seks.

img_title MUI: Atasi Kemiskinan Bukan dengan Memandulkan, Tapi Ciptakan Lapangan Kerja

"Stigma saja sih. Kalau kita lihat orang beli kondom pasti pikirannya mau melakukan atau apa, jadi pikirannya sudah negatif dan itu hal yang enggak lumrah di masyarakat kita."

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rasa malu saat membeli kondom tak hanya dirasakan mereka yang masih muda tapi bahkan yang sudah menikah sekalipun merasa malu saat membeli alat pengaman tersebut. Seperti diceritakan beberapa orang yang ditemui VIVA di tempat berbeda berikut.

img_title Respons Gus Ipul Soal Usulan Vasektomi Jadi Syarat Penerima Bansos: Kita Pelajari, Idenya Baik

"Ya kalau beli lihat dahulu sepi enggak kasirnya, kalau belum sepi ya mondar-mandir di sekitar situ. Itu juga pas bayar suka masih dilihatin," kata Alfons, 31 tahun, seorang karyawan swasta di salah satu perusahaan di Jakarta.

Bahkan Alfons yang telah menikah dan memiliki anak satu tersebut cenderung memilih setia dengan kondom pilihannya daripada harus berlama-lama di depan rak dan memilih kondom berbeda.

img_title Dedi Mulyadi Akan Beri Insentif Rp500 Ribu bagi Para Suami yang Ikut Vasektomi

"Cari yang biasa dipakai saja meski banyak pilihan, malu kalau harus berdiri lama-lama depan rak berisi kondom," katanya.

Ilustrasi pasangan.

Menurut Psikolog Lizzie, kebiasaan masyarakat untuk bergerak cepat saat membeli, atau menutupinya dengan membeli barang lain merupakan hal yang wajar. Apalagi dengan budaya masyarakat Indonesia saat ini yang menganggap kondom masih sebagai hal tabu.

"Sebagai kamuflase, trik saja. Meminimalisasi rasa malu karena dalam budaya kita masih rada tabu, semudah itu. Makanya beli kondom sama rokok, permen, popok, kenapa? Karena dipikirnya biar enggak punya anak lagi. Cari alasan, buat nutupin, menurut saya normal. Di mana kita dibesarkan ada budaya sendiri."

Kondom dan pencegahan HIV/AIDS

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski sadar betul akan pentingnya perlindungan ganda yang diberikan oleh kondom, yaitu tak hanya sebagai alat kontrasepsi, tapi juga sebagai alat untuk melindungi dari penularan HIV/AIDS, masyarakat Indonesia pada umumnya cenderung menolak fakta-fakta tersebut.

"Intinya, 'Saya enggak macam-macam, enggak bakalan kena penyakit ini itu'," kata Corporate Communication Manager DKT Indonesia, Pierre Frederick yang menyebut hal tersebut sebagai penyangkalan diri.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut