Kondom, Seks Bebas dan Simbol Ketidaksetiaan
- Pixabay/Anqa
"Persepsi masyarakat terhadap self perceiveness (mengetahui bahwa dirinya berisiko) itu masih sangat rendah. Jadi bisa dibilang bahwa pengetahuan akan diri sendiri berisiko masih rendah. Penyangkalan bahwa orang-orang tersebut tidak akan terkena penyakit atau kehamilan yang tidak direncanakan," jelasnya.
Sebagai perusahaan yang telah ada di Indonesia sejak tahun 1996, DKT Indonesia telah secara aktif melakukan berbagai penyuluhan terkait gaya hidup berisiko tersebut dengan sasaran yang berbeda setiap tahun, namun dengan tujuan sama yaitu untuk mensosialisasikan pentingnya melindungi diri sendiri dan keluarga.
"Kita penyuluhan ke 23 pelabuhan seluruh Indonesia, kerja sama dengan komisi Penanggulangan AIDS provinsi atau daerah, LSM, sosialisasi IMS, HIV, juga voluntary testing HIV. Tahun ini kita melihat daerah industri juga cukup rawan atau berisiko, sehingga kami fokus ke area industri," papar Pierre.
![]()
"(karena)Perkumpulan orang. Kalau pelabuhan salah satu high risk area, daerah industri juga merupakan salah satu mapping kita. Pekerja perlu diberi penyuluhan dan sosialisasi hidup bertanggung jawab."
Penerimaan kondom
Secara umum memang tidak bisa dikatakan masyarakat Indonesia masih tabu dalam menerima kondom, karena nyatanya untuk kota besar di Indonesia seperti Jakarta, masyarakatnya sebenarnya sudah mulai terbuka dengan kondom, karena ada banyak cara untuk membeli tanpa harus datang ke minimart, dan juga kehidupan mereka yang lebih individualistis.
"Sudah (terbuka) banget, karena mereka lebih terpapar teknologi, manusianya lebih individualistis, kita bertetangga tapi enggak peduli, lagian sekarang sudah enggak perlu lagi beli (langsung), bisa nitip OB, pembantu, karena banyak fasilitas yang membuat orang enggak perlu berhadapan langsung di convenience store," kata Lizzie.
Tidak seperti Indonesia atau negara Asia lain seperti Malaysia, Vietnam, negara seperti Filipina dan Thailand lebih mudah menerima kondom.
![]()
"Di Eropa dan Amerika, kondom bukan barang tabu. Seringkali disediakan gratis di toilet umum. Di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Thailand dan Filipina juga relatif lebih mudah menerima kondom secara terbuka," kata Irwan.
Seolah sejalan dengan persepsi masyarakat terhadap kondom itu sendiri, penjualan alat pengaman ini juga bisa dibilang cukup kecil.