Usia Berapa yang Paling Optimal untuk Cek Kolesterol?

Ilustrasi cek gula darah, asam urat dan kolesterol.
Ilustrasi cek gula darah, asam urat dan kolesterol.
Sumber :
  • U-Report

VIVA – Ketika memasuki usia 40 tahun, risiko kolesterol meningkat akan menjadi lebih tinggi. Namun, risiko tersebut bisa saja menyerang pada usia yang lebih muda karena berbagai faktor dan tergantung kasus setiap orang. 

Maka dari itu, mengecek kadar kolesterol menjadi sangat penting dilakukan. Lalu, berapa usia yang paling optimal untuk melakukan cek kolesterol? 

"Jadi yang penting adalah apakah kita ini punya gak sih faktor risiko atau faktor genetik turunan," ujar Spesialis penyakit dalam, Prof. DR. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, dalam tayangan program Hidup Sehat tvOne, Rabu 17 November 2021. 

"Kalau memang kebetulan misalnya orangtua kita baik ayah atau ibu menderita stroke atau bahkan meninggal karena stroke, itu udah warning. Hati-hati, anaknya bisa aja kolesterol, karena salah satu penyebab kena stroke adalah kolesterol tinggi. Jadi harus diperhatikan," lanjut dia.

Ilustrasi Kolesterol

Ilustrasi Kolesterol

Photo :
  • U-Report

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan terkait kolesterol adalah makanan yang dikonsumsi sehari-hari. 

"Juga, apakah seseorang sejak kecilnya udah makan goreng-gorengan. Kemudian obesitas. Untuk yang seperti itu, kalau bisa umur 30 tahun sudah mesti dicek. Yang 40 tahun itu sebenarnya kalau yang gak ada risiko," ungkapnya. 

"Karena sering pasien-pasien saya medical check up, kolesterolnya tinggi, tiga bulan yang lalu baru datang ke dokter, jangan," tambah dia. 

Menurut Prof. Ari, prinsipnya jika seseorang sudah didiagnosis menderita kolesterol, maka si penderita harus cek kolesterol secara rutin. 

"Jadi tiap bulan kita cek kolesterolnya. Kalau udah normal, boleh nanti bertahap 3 bulan sekali. Kalau udah oke, 6 bulan bahkan tiap tahun," kata dia. 

Oleh karena itu, Ari menegaskan, cek kolesterol tidak bisa berpatokan pada usia karena tergantung pada kasus masing-masing orang. 

"Prinsipnya adalah, ketika kita tahu kolesterol tinggi, udah deh berobat ke dokternya. Baik itu dokter keluarga, atau sudah dirujuk ke dokter penyakit dalam, ya silakan," tuturnya. 

Lalu, berapa kadar kolesterol yang dikatakan normal?

"Tergantung laboratorium. Ini penting juga diketahui masyarakat. Jadi yang mesti kita lihat itu kolesterol total, diharapkan kurang dari 200. Nah kemudian yang kita lihat lagi adalah, kolesterol ini ada yang baik (HDL) dan jahat (LDL). Nah, sebaiknya LDL itu di bawah 100," terang dia. 

Kemudian kata Ari, dalam komponen lemak darah, satu lagi yang harus dicek adalah trigliserida. 

"Biasanya kita ambil patokan di bawah 200. Mestinya kalau orang mau periksa lipid, yaitu kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida," jelas dia. 

"Kadang-kadang kan ada yang langsung cepet (cek kolesterol), itu cuma total saja. Kalau saya sih tidak menganjurkan. Kalau untuk sekilas tahu aja boleh, tapi idealnya adalah yang dari vena," tutup Prof. Ari.