Kemenkes: 1 Kasus COVID-19 Omicron Kraken di RI Tanpa Gejala

Ilustrasi Omicron
Sumber :
  • Dokumentasi VIVA

VIVA Lifestyle – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat laporan kasus COVID-19 terkait subvarian Omicron Kraken atau XBB 1.5 di Indonesia. Kasus ini terdeteksi di Balikpapan, Kalimantan Timur dari pelaku perjalanan asal Polandia.

PIN Polio Putaran Kedua Dimulai Hari Ini, Kemenkes Targetkan Cakupan 95 Persen

"Sejauh ini baru satu kasus Kraken yang dilaporkan di Indonesia," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi yang dikonfirmasi di Jakarta, dikutip laman Antara, Kamis 26 Januari 2023.

Nadia melanjutkan bahwa varian kraken, yang tengah memicu lonjakan kasus COVID-19 di Amerika Serikat, terdeteksi saat warga negara Polandia ketika sedang beraktivitas di Balikpapan.

Prof Bus Dipecat, Menkes: Saya Tidak Ada Komunikasi dengan Rektor Unair

Pelaku perjalanan ini juga diketahui sempat berpindah ke beberapa tempat. Meski begitu, pasien tak bergejala. Yuk lanjut scroll artikel selengkapnya berikut ini.

"Pasien tidak bergejala," katanya.

Dekan FK Unair Dicopot Gara-gara Tolak Dokter Asing, Menkes Budi Sadikin Bantah Intervensi

Ilustrasi sampel pasien varian Omicron

Photo :
  • Times of India

Ada pun, subvarian XBB 1.5 dideteksi di Indonesia pada 11 Januari 2023 menggunakan metode genom sekuensing di fasilitas laboratorium pemerintah. Kraken ini terdeteksi dari laporan positif tes PCR sebagai syarat masuk kapal pada 11 Januari 2023 lalu. Lantas, apa bahaya dari varian omicron kraken?

"Seperti yang disampaikan dari virus ini mudah menular dibandingkan dengan varian apapun," kata Ketua Satgas COVID-19 PB IDI, Dr.dr. Erlina Burhan, Sp.P (K), MSc, dalam virtual conference, Rabu 25 Januari 2023. 

Meski begitu, diungkap oleh Erlina Burhan gejala yang dirasakan para pasien terkonfirmasi sub varian ini ringan dan sebagian besar tidak ada keluhan.

Virus Omicron

Photo :
  • Times of India

"Tapi gejala atau keluhannya memang ringan bahkan sebagian besar tidak ada keluhan," ujar dia.

Maka dari itu, Erlina mengimbau agar masyarakat melakukan booster untuk mencegah terjadinya perberatan gejala pada pasien. Erlina Burhan juga kembali mengingatkan bahwa vaksinasi bukanlah satu-satunya cara untuk menekan laju penularan COVID-19, perlu disertai protokol kesehatan yang baik.

"Dikatakan bahwa booster kedua tujuannya adalah jangan sampai tertular menjadi berat jadi tidak 100 persen bisa dikatakan booster ini bisa mencegah seseorang tidak menjadi sakit," kata dia. 

Sebelumnya, Varian baru COVID-19 kembali ditemukan dengan sebutan 'Kraken', yang menurut para ahli memiliki kemampuan menghindari imunitas di tubuh. Varian Omicron baru ini juga dikenal dengan nama XBB.1.5 yang paling menular sejauh ini.

Omicron varian baru Covid-19 (ilustrasi)

Photo :
  • ANTARA/Shutterstock

Dikutip laman Fortune, XBB.1.5 telah dengan cepat menggantikan varian lain di beberapa negara Eropa dan di timur laut AS. Menurut WHO, itu menjadi salah satu keunggulan penularan varian XBB.1.5.

Para ahli juga menyebut strain Omicron baru XBB.1.5, dijuluki Kraken di Twitterverse, karena potensinya menyebabkan gelombang COVID besar berikutnya, lantaran sifat "escape strain" atau menghindari imunitas dan penularannya yang sangat tinggi.

Kelompok penasihat teknis Organisasi Kesehatan Dunia tentang evolusi virus sedang mengerjakan penilaian risiko pada varian tersebut, yang paling menular," kata ujar kepala teknis untuk tanggapan COVID-19 di Organisasi Kesehatan Dunia, Maria Van Kerkhove.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya