Sindrom Metabolik dan Penyakit Diabetes

Ilustrasi cek kolesterol
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id - Penyakit diabetes adalah satu-satunya penyakit non-infeksi yang telah dideklarasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai wabah. Biasanya, penyakit ini menghinggapi orang berusia senja, tetapi belakangan ini pasien diabetes banyak yang masih muda. 

Menu Sarapan untuk Anak Penderita Diabetes

Itu dikarenakan maraknya gaya hidup yang tidak sehat. Seperti tidak menjaga makan, konsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori, kurang beraktivitas fisik, merokok dan sebagainya.

Menurut Prof. Dr.dr. Agung Pranoto,MSc, SpPD-KEMD, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Konsultan Endrokin Metabolik Diabetes dari Rumah Sakit Darmo, untuk mencegah diabetes, konsumsi karbohidrat seperti nasi harus dibatasi dan hindari diet tinggi fruktosa. Hal ini karena fruktosa adalah pemanis sehingga kalorinya tinggi. 

Dokter Filipina Temukan Obat Diabetes dalam 5 Menit

Jika karbohidrat dan gula masih dikonsumsi secara tinggi, tentu hal tersebut akan menyebabkan apa yang disebut sindrom metabolik. 

"Orang gampang gemuk, kemudian ada perubahan profil lipid, kolesterolnya jadi naik. Kemudian tekanan darah juga akan meningkat dan gula darahnya itu meningkat. Nah, metabolic syndrome ini dalam jangka waktu yang panjang akan mencetuskan terjadinya penyakit diabetes," ujar Agung dalam wawancara khusus dengan VIVA.co.id.

Penderita Diabetes, Ditemukan Pil Pengganti Suntik Insulin

Ia mengatakan, cara melihat apakah Anda sudah termasuk obesitas adalah dengan mengukur lingkar pinggang. Lingkar pinggang pria batasnya 90 sentimeter, sedangkan wanita 80 sentimeter. Jika lingkar pinggang Anda sudah lebih dari angka tersebut, itu tandanya sudah lampu merah. 

Dengan begitu, Anda harus segera melakukan suatu tindakan untuk menurunkan lingkar perut. Lemak di perut mampu menyebabkan hormon jahat yang mengakibatkan diabetes dan risiko penyakit jantung koroner serta stroke.

Lalu, bagaimana dengan orang gemuk yang gula darahnya normal? Itu mungkin saja terjadi, menurut Agung. Tapi, tentu saja ia harus tetap waspada dan jangan menunggu sampai gula darah tinggi.

"Jadi kalau lingkar perutnya tinggi, atau terjadi obesitas belum tentu orang itu diabet, tapi berisiko menjadi diabetes. Kita harus intervensi bahaya metabolic syndrome atau diabetes. Jadi enggak menunggu diabetesnya keluar, jadi kalau ada itu sudah diintervensi dengan lifestyle dan juga deteksi dini," jelas Agung.

Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) itu lebih lanjut mengatakan, deteksi wajib dilakukan agar penyakit diabetes dapat ditemukan ketika masih dalam fase dini, yaitu fase pre-diabet. 

Deteksi dini harus dilakukan karena pre-diabet tidak ada gejalanya sehingga hanya dapat dideteksi lewat screening gula darah. Jika positif pre-diabet, maka segera dilakukan intervensi, sehingga penyakit diabetnya akan mundur beberapa tahun kemudian. 

"Intervensinya dengan lifestyle, meningkatkan aktivitas, diet, menjaga makan, makan sehat. Kalau diet itu seolah-olah enggak boleh makan. Makan enggak apa-apa asal yang sehat," ujarnya.

Ia menambahkan, aktivitas sehat juga dapat menunda  munculnya diabet. Kemudian sudah ada obat-obatan yang diminum. Justru kita kalau menyarankan pasien untuk melakukan terapi gaya hidup, yang bisa patuh hanya sedikit, kira-kira 12 persen saja. 

"Jadi sebagian besar itu diperlukan pengobatan supaya bisa tercegah," kata Agung. (one)


Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya