Pentingnya Melatih Anak Berpikir Kritis

Ilustrasi anak belajar.
Sumber :
  • U-Report

VIVA – Banyak orangtua menginginkan hal yang terbaik bagi anaknya, termasuk dalam hal pendidikan. Karenanya untuk menumbuhkan potensi anak secara utuh tidaklah mudah.

img_title Pendidikan dan Nutrisi Anak Jadi Sorotan Baru di Asia Tenggara, Ini yang Terjadi

Dilansir laman Oxford learning, saat ini orangtua belum banyak yang memahami bagaimana menumbuhkan potensi anak secara utuh, sehingga banyak orangtua yang ikut les itu karena kepanikan karena mau ujian atau ikut tetangga. Itu enggak menjawab kebutuhan anak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal itu membuat potensi anak jadi tidak tumbuh. Bahkan, juga menghabiskan uang orangtua itu sendiri. Padahal yang mesti diperhatikan ialah melihat kebutuhan anak, tujuan yang perlu dicapai serta apa yang dibutuhkan dan apa yang harus ditambahkan.

img_title Lifelong Learning: Bukan Hanya Soal Nilai, Tapi Kualitas Diri

Misalnya saja, karena dia punya minat sains, dia butuh klub yang berkaitan dengan sains laboratorium, eksperimen, sementara  anak lain mungkin butuh keterampilan di bidang seni.

Sementara itu, di sisi lain Aditiawarman, Marketing Executive Eye Level Indonesia di Jakarta mengatakan salah satu kelemahan dari sistem pendidikan selama ini adalah anak kurang dilatih dalam hal critical thinking (berpikir kritis). 

img_title Berkaca dari Kasus Bunga Zainal, OJK Ungkap 6 Ciri-Ciri Investasi Bodong

"Salah satu yang perlu dikuasai oleh generasi mendatang dalam menghadapi era industry 4.0 adalah critical thinking. Nantinya Critical Thinking ini juga akan berguna bagi masa depan anak untuk memecahkan masalah dalam setiap persoalan," ujarnya beberapa waktu lalu.

Adit merekomendasikan tempat belajar yang bisa membantu anak berpikir kritis. "Eye Level lembaga pendidikan non-formal yang memiliki materi pembelajaran seperti Matematika, Math, Play Math, English, English Sparks dan Happy Talk untuk anak usia 3 hingga 15 tahun. Lembaga ini fokus pada materi pembelajaran Matematika dan Bahasa Inggris untuk anak usia 3 hingga 15 tahun," ujarnya.

Ada dua fokus dalam materi pembelajaran yaitu Basic Thinking Math (Bilangan, Aritmatika, Pengukuran, Persamaan). 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Basic Thinking Math juga mengutamakan membantu anak memahami matematika secara umum seperti layaknya pelajaran Matematika di sekolah. Lalu Critical Thinking Math (Pola Hubungan, Geometri, Pengukuran, Pemecahan Soal, Penalaran) membantu penalaran pada otak kiri anak."

Dengan adanya buku yang sistematis dan menarik, serta alat bantu belajar akan membuat anak semakin semangat dan senang belajar

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut