- REUTERS/Kim Kyung-Hoon
Angka bunuh diri di Jepang disebut 60 persen lebih tinggi dari angka rata-rata bunuh diri secara global. Pelaku bunuh diri di negara ini tiga kali lebih banyak dibanding Inggris. Pada tahun 2014, tercatat sekitar 25.000 orang warga Jepang melakukan aksi bunuh diri dalam satu tahun. Artinya, dalam satu hari, sekitar 70 orang mengakhiri hidupnya.
![]()
Aktivitas warga Jepang di dalam kereta api di Tokyo. (REUTERS/Issei Kato)
Kasus bunuh diri bahkan sudah menjangkiti anak-anak Jepang. Dikutip dari Mirror.co.uk, setiap tanggal 1 September, atau tahun ajaran baru dimulai, angka anak-anak yang memutuskan bunuh diri meningkat. Bunuh diri memang bukan sebuah dosa di Jepang. Bahkan mereka memiliki tradisi bunuh diri dengan berbagai nama dan alasan. Harakiri, Seppuku, dan Kamikaze adalah nama lain bunuh diri dengan alasan yang berbeda-beda.
Korea Selatan, sebuah negara maju dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang bagus juga memiliki angka bunuh diri yang mengagetkan. Setiap hari, ada 40 orang yang memutuskan untuk menghilangkan nyawanya sendiri di negara ini. "Bunuh diri di mana-mana," ujar Young-ha Kim, seorang penulis opini kepada The New York Times, 31 Oktober 2017.
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan mengungkapkan bahwa 90 persen aksi bunuh diri di negara tersebut yang terjadi pada tahun 2016, pelakunya didiagnosis menderita sakit mental seperti depresi atau cemas berlebihan, suatu kondisi yang disebabkan oleh stres.
Depresi Makin Banyak
Tahun 2017, World Health Organization (WHO) melaporkan tentang terjadinya peningkatan depresi di berbagai wilayah di seluruh dunia. Menurut badan dunia tersebut, sejak tahun 2005 hingga 2015, angkanya meningkat sebanyak 18 persen.
Menurut catatan WHO, penderita depresi mencapai empat persen dari total penduduk dunia, atau sekitar 300juta orang. Angka ini meluas, dan saat ini depresi menjadi sumber utama gangguan psikis dan mental secara global.
Penasihat Sistem Kesehatan WHO dari Departemen Kesehatan Mental dn Penyalahgunaan Zat, Dan Chisholm, yang juga memimpin penelitian dan penulisan laporan tentang depresi untuk WHO mengatakan bahwa depresi adalah gangguan yang bisa terjadi pada siapa saja, dan bisa terjadi pada setiap periode dalam perkembangan hidup seseorang.