- REUTERS/Kim Kyung-Hoon
"Jika Anda melihat prevalensi dari kelainan yang berbeda di seluruh dunia, dan Anda melihat kelainan yang saling terkait di antara itu semua, dan jika semua kelainan itu Anda kombinasikan menjadi satu, maka depresi akan berada di puncak teratas, karena itu adalah hal yang sangat umum," ujarnya seperti dikutip dari VoA, Februari 2017.
Ia menambahkan, "Anda bisa melihat itu terjadi pada satu di antara 20 orang, dan tanpa suara dan tak terasa, tapi angka peningkatannya menjadi cukup tinggi."
Chisholm mengatakan banyak orang menderita gangguan kecemasan dan depresi secara terus menerus. Saat ini depresi menjadi penyebab gangguan kesehatan mental terbesar keenam dan menjadi penyebab gangguan kesehatan utama di seluruh wilayah di Amerika Serikat.
Menurutnya, depresi di seluruh dunia mengalami peningkatan karena populasi dunia yang terus tumbuh dan menua, terutama di negara berkembang. "Angka depresi mencapai puncak tertinggi pada usia tersebut. Faktor demografis membuat jumlah penderita depresi mengalami peningkatan secara dramatis," ujarnya.
![]()
Hidup dengan penuh tekanan menjadi salah satu faktor penyebab depresi. Salah satunya tingginya tekanan pekerjaan. (REUTERS/Issei Kato)
Penyebab depresi bukan faktor tunggal. Menurut sebuah tulisan berkjudul 'What causes depression?' yang dipublikasikan di website Universitas Harvard di Amerika Serikat pada Juni 2009 dan dipublikasikan ulang pada 11 April 2017, ada banyak kemungkinan penyebab depresi. Termasuk di antaranya adalah pengaturan mood yang salah oleh otak, kerentanan genetik, peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, pengobatan, dan juga masalah medis. Dipercaya bahwa beberapa dari kekuatan ini berinteraksi dan akhirnya menghasilkan depresi.
Meningkatnya kesadaran bahwa depresi kini menjadi hantu yang membayangi masyarakat, negara sebagai sebuah institusi mulai ambil bagian untuk menekan angka depresi rakyatnya.
Uni Emirat Arab mendahului dengan membuat kementerian yang khusus menciptakan kebahagiaan bagi rakyatnya. Jatuhnya harga minyak sejak tiga tahun terakhir membuat negara-negara tajir itu kelabakan karena mengalami kerugian sehingga membuat mereka bertindak cepat.
Pemerintahan Uni Emirat Arab meyakini, hal baik yang bisa menciptakan masa depan yang membahagiakan bagi mereka bukanlah harta yang melimpah ruah, tapi kebahagiaan dan toleransi.