- REUTERS/Philippe Wojazer
“Menurut saya, operasi informasi bergaya militer itu sesuai dengan proses yang demokratis,” kata Wylie kepada para anggota parlemen Inggris dalam Komisi Digital, yang salah satu tugas mereka adalah menangani informasi palsu di media sosial. Wylie, yang kelahiran Kanada 28 tahun silam ini, bekerja sebagai ahli analisa data lulusan London School of Economics. Menurut sejumlah orang yang mengenalnya, Wylie adalah sosok yang cerdas, lucu, dan jago bercerita. Ia bergabung dengan Cambridge Analytica pada Juni 2013.
Kesaksian Wylie ini lah yang membuat Facebook lagi-lagi menjadi pusat perhatian dunia. Bukan karena prestasi tapi kebobrokannya. Skandal bocornya data 50 juta pengguna di Amerika Serikat, seperti yang diungkapkan Wylie itu telah mencemari reputasi mereka.
Ancaman ditinggalkan penggemar mulai menggema. Kampanye menghapus Facebook terlontar usai skandal bocornya data oleh firma politik asal Inggris, Cambridge Analytica menyeruak ke publik.
“Tangan Kanan” Trump
Tak hanya Wylie yang menjadi sorotan. Menurut The Guardian, ilmuwan data dan guru besar psikolog, Aleksandr Kogan, menjadi tersangka utama dalam kasus penyalahgunaan data terbesar yang terjadi saat ini.
Namun, ia membantah tuduhan tersebut dan menganggap hanya jadi kambing hitam. Pria berusia 32 tahun itu mengatakan, bahwa tidak hanya ia yang menggunakan data profil para pengguna Facebook tapi ribuan developer dan ilmuwan data lainnya.
Mereka diklaim telah melakukan metode yang sama untuk mengumpulkan informasi tentang profil pengguna Facebook. Perusahaan yang salah satu pendirinya Steve Bannon ini mengumpulkan data mulai dari identitas pengguna, jaringan pertemanan hingga 'like' pengguna di Facebook.
Idenya adalah untuk memetakan kepribadian berdasarkan apa yang orang suka di Facebook, dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk menargetkan audiens dengan iklan digital. Empat tahun lalu, periset Cambridge Analytica meminta pengguna untuk melakukan apa yang dinamakan 'kuis kepribadian.'
![]()
Cambridge Analytica mengambil data dan hasil analisisnya untuk digunakan sebagai strategi kampanye politik, salah satunya, untuk memenangkan Donald Trump pada Pemilihan Presiden AS dua tahun lalu. Tak hanya itu, pengguna juga diminta untuk mengunduh aplikasi yang menghapus beberapa informasi pribadi dari profil mereka dan profil teman mereka.