- REUTERS/DW/TAN
Penantian terjawab. Pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto memberi pernyataan. Melalui siaran langsung yang disiarkan televisi, ia menyatakan mundur dari jabatan Presiden RI. Tampuk kepemimpinan diserahkan kepada BJ Habibie yang saat itu menjadi wakil presiden saat itu.Â
![]()
Keputusan Soeharto disambut gegap gempita. Takbir, sujud syukur, teriakan dan yel-yel terdengar di berbagai penjuru negeri. Mahasiswa larut dalam bahagia. Tuntutan yang kerap dilantangkan mulai dikumpulkan dan disusun menjadi agenda bersama. Enam Agenda Reformasi ditetapkan, yaitu: Adili Soeharto dan kroni-kroninya, Cabut Dwi Fungsi ABRI, Pemberantasan KKN , Amandemen UUD 45, Otonomi Daerah Seluas-luasnya, dan tegakkan supremasi hukum.
Mundurnya Soeharto membawa euforia sesaat, karena berikutnya terjadi kegamangan. Mahasiswa menolak BJ Habibie sebagai pengganti Soeharto karena dianggap masih bagian dari Orde Baru dan kroni Soeharto. Namun Habibie tak mungkin mundur karena bisa menyebabkan terjadinya vacuum of power yang pasti berdampak buruk pada negara.
Habibie memutuskan melanjutkan jabatan sambil menunggu ketetapan Sidang Istimewa. Para pimpinan Dewan mengambil keputusan, Sidang Istimewa akan diadakan pada 10-13 November 1998.
Demonstrasi mereda, tapi tak pernah benar-benar berhenti. Menjelang pelaksanaan Sidang Istimewa demonstrasi kembali meningkat. Mahasiswa kembali turun ke jalan. Mereka bergabung dan menolak Sidang Istimewa yang dikhawatirkan hasilnya tak akan mengubah apa pun.
Tanggal 12 November 1998, ratusan ribu mahasiswa bergabung dengan masyarakat turun ke jalan menolak Sidang Istimewa. Namun mereka tak bisa mendekat ke Senayan. Penjagaan aparat yang ketat membuat mereka mundur teratur. Hari berikutnya, 13 November 1998, mahasiswa dan masyarakat tak surut. Mahasiswa yang nekat dan aparat yang bersenjata lengkap bertemu. Bentrokan terjadi.Â
Aparat yang represif kembali menekan mahasiswa dan melakukan tindakan brutal. Fatal, 15 orang tewas. Tujuh dari mahasiswa, dan delapan dari masyarakat. Peristiwa berdarah itu dikenal dengan nama Tragedi Semanggi I. Pada 23 November 1998, tragedi kembali terjadi di Semanggi. Empat orang tewas, dan orang-orang menyebutnya sebagai Tragedi Semanggi II.
Pedih bagi Sumarsih. Di saat ia sibuk melakukan tugasnya sebagai staf gedung MPR/DPR dan menyiapkan Sidang Istimewa, Wawan justru tewas akibat terjangan timah panas aparat. Anak laki-lakinya itu meregang nyawa saat mencoba menolong mahasiwa lain yang terluka. "Anak saya gugur demi nilai yang ia perjuangkan," ujarnya. Wawan gugur, ia menjadi korban di Tragedi Semanggi I.