- ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Budi Setiyadi mengakui sulit menghentikan masyarakat agar tak menggunakan sepeda motor untuk mudik. Sebab, selain bahan bakar yang jauh lebih hemat dibanding kendaraan umum lainnya, sepeda motor juga digunakan untuk mobilitas mereka selama berada di kampung halaman.Â
Sekaligus ajang untuk memperlihatkan keberhasilan pemudik selama di Jakarta. Itu sebabnya, yang dilakukan pemerintah adalah membujuk pemudik agar menggunakan moda transportasi umum lain dan sepeda motor mereka bisa dikirim secara gratis.Â
Ia juga meminta agar sepeda motor tidak usah banyak membawa barang yang tidak perlu. Ia mengimbau, sebaiknya satu sepeda motor hanya ditumpangi maksimal oleh tiga orang. "Biasanya kan ada orangtuanya. Bapaknya, ibunya, anaknya dua atau tiga orang ikut sepeda motor, bawa ransel ditambah kayu bambu, itu kan tidak bagus," ujarnya.Â
"Jadi kemarin kan kami juga mengharapkan tidak demikian. Menurut saya kalau sepeda motor maksimal penumpangnya tiga orang saja lah," Budi menambahkan. Â
![]()
Pemudik menggunakan sepeda motor
Kombes Polisi Benyamin juga mengaku, Polri tak lelah untuk terus mengimbau masyarakat agar tak menggunakan sepeda motor untuk mudik. Tapi, kalaupun tetap ada pemudik yang mengunakan motor, pihaknya akan menyiapkan rest area di sepanjang jalur yang dilalui pemudik bermotor.Â
"Ada rest area di sepanjang jalur mudik. Kami sediakan tempat istirahat dan juga untuk salat," katanya. Ia juga mengimbau agar pemudik bermotor tak berlebihan mengangkut muatan.Â
Menurut Budi Setiyadi, selain sepeda motor, kendaraan lain yang berpotensi mengalami laka lantas adalah kendaraan berkecepatan tinggi. Kendaraan yang dipacu dengan kecepatan tinggi rentan oleng atau hilang kendali.Â
Jika pengemudi lengah, akibatnya bisa fatal. Faktor jarak juga dihitung Budi sebagai area kecelakaan.Â
Budi menyebut, Jawa Timur sebagai daerah yang paling sering terjadi kecelakaan, kemudian Jawa Tengah, dan terakhir adalah Jawa Barat. Itu terjadi karena Jawa Timur adalah tujuan mudik terjauh dan kecepatan pacu kendaraan cenderung tinggi.Â
Sementara itu, saat di wilayah Jawa Barat, selain jarak dengan Jakarta yang masih dekat, kecepatan pemudik relatif lebih rendah. "Saat di Jawa Barat pemudik masih belum capek. Kalau di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sudah mulai capek. Maka angka kecelakaan muncul di sana," dia menjelaskan.Â