SOROT 507

Anak Maluku Gemparkan Piala Dunia

Isaak Pattiwael
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

Sayangnya, setelah Yohannes, tak ada lagi keturunan Pattiwael yang menjadi pesepakbola. John menyatakan, masalah bakat menjadi salah satu alasan tak ada lagi keturunan Pattiwael yang terjun ke dunia sepakbola.

img_title 88 Tahun Penantian! Timnas Indonesia dan Kuba Pernah Mencetak Sejarah di Piala Dunia, Lalu Menghilang

"Saya punya saudara juga. Kalau memang tak bakat, ya mau seperti apa. Tapi, saya juga tak mau jauh-jauh dari sepakbola. Saya bisa berkontribusi dengan menggugah semangat para pesepakbola sekarang dengan kisah kakek saya. Menulis buku tentang kisah kakek saya dan semacamnya, bisa menjadi sebuah kontribusi terhadap kemajuan sepakbola Indonesia. Pemain kita bisa kok," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bukan Cuma Klan Pattiwael

img_title Ketika Indonesia Pertama Kali Guncang Panggung Dunia Sepakbola, Tampil di Piala Dunia Prancis Naik Kapal Laut 2 Bulan

Generasi yang hilang bukan hanya dari klan Pattiwael. Namun, para pemain Tionghoa yang dulu bermain untuk Timnas Hindia Belanda di Piala Dunia 1938, juga tak ada penerusnya.

Banyak faktor yang membuat mereka tak memiliki penerus dalam dunia sepakbola. Perkembangan politik di Indonesia menjadi penyebab utama. Sejak paham komunis berkembang di Indonesia, sentimentil terhadap warga Tionghoa ikut menyebar.

img_title Timnas Indonesia Lolos Piala Dunia U-17 2025

Mereka seakan dikucilkan dari kehidupan sosial. Mo Heng yang sempat bermain untuk Timnas Indonesia selepas masa kemerdekaan, merasakannya. Puncaknya adalah usai peristiwa G 30 S meletus. Dimulai dari sini, warga Tionghoa menghilang dari dunia sepakbola. Mereka meminta kepada anak-anaknya untuk berkiprah di olahraga indoor ketimbang sepakbola yang mendatangkan massa. Atau, orang tua pemain Tionghoa itu meminta anaknya fokus di dunia bisnis.

"Mereka ingin meminimalisir risiko. Sebenarnya, Tionghoa punya peran besar dalam sejarah sepakbola Indonesia. Selain memegang peranan ekonomi di masa kolonial, mereka juga menganggap olahraga sangat penting. Tak cuma menyehatkan jasmani, tapi juga rohani. Maka dari itu, mereka mendirikan perkumpulan olahraga di Surabaya, Jakarta, dan Bandung," ujar sejarawan sepakbola Indonesia, Bayu Rojil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, Ketua POR Suryanaga (dulu bernama Tionghoa Surabaya, klub Hong Djien bermain), Yacob Rusdianto menuturkan, kerasnya sepakbola menjadi penyebab lain mengapa banyak pemain Tionghoa tak lagi berkiprah di sana.

"Dulu, klub anggota Persebaya, termasuk Suryanaga, wajib menyumbangkan pemain terbaiknya. Dulu, banyak pemain Suryanaga membela Persebaya. Tapi, sekarang sudah tidak lagi. Persebaya sudah profesional, pemain bisa dibeli. Tidak ada jenjang ini membuat sepakbola Suryanaga vakum. Dari Suryanaga terus ke mana sekarang, apa dibeli atau bagaimana," ujar Yacob.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut