- REUTERS/Carlos Barria/Jonathan Ernst
Setelah akhirnya mampu mengatasi kondisi emosionalnya, Hillary berjalan ke dalam gedung. Berdiri di tengah panggung, dan mengakui pada penggemarnya, bahwa kekalahan itu menyakitkan dan itu bisa berjalan lama. Tapi ia meminta seluruh pendukungnya untuk menerima kekalahan tersebut. "Donald Trump akan menjadi presiden kita. Dan saya berharap ia akan menjadi presiden yang sukses bagi seluruh rakyat Amerika," ujarnya dengan nada tercekat, seperti dikutip dari USA Today, 11 November 2016.
Hari itu, 10 November 2016, rakyat Amerika mendapatkan presiden baru. Tak sepenuhnya bisa diterima, tapi kemenangan Trump membuktikan, ia dan timnya sukses menguasai pertarungan.
Meramu Timses
Proses pemilihan presiden di Amerika Serikat yang diikuti oleh Hillary Clinton dan Donald Trump adalah contoh nyata bagaimana tim sukses atau tim pemenangan bekerja. Donald Trump, tokoh penuh kontroversial, yang suka sembarangan bicara, melecehkan perempuan dan terkesan urakan berhasil menyalip dan menyisihkan Hillary Clinton, mantan ibu negara, mantan Menlu AS, perempuan anggun yang terdidik dan terpelajar, dan berhasil menguasai polling di berbagai lembaga survei.
Kerja keras timses Trump berhasil menjungkirbalikkan semua persepsi dan hitungan jajak pendapat. Padahal tim sukses Trump tak bisa dibilang solid.
Trump bahkan sempat melakukan bongkar pasang dalam jajaran tim suksesnya. Kondisi tersebut berbeda dengan timses Clinton yang sejak awal solid dan terus mengawal seluruh proses, sejak Clinton bersaing di internal Demokrat, hingga ia bersaing dengan Donald Trump.
Trump pernah melibatkan Corey Lewadowski, tapi memecatnya pada akhir Juni 2016. Ia lalu merekrut Paul Manafort. Hanya dua bulan, Manafort mengundurkan diri. Ia dibayangi kasus korupsi di Ukraina.
![]()
Mantan Ketua Tim Manajer Kampanye Donald Trump, Paul Manafort. (REUTERS/Jim Bourg)
Hanya dua empat bulan menjelang hari pemilihan, Trump akhirnya memiliki tim kampanye yang solid. 10 orang yang ia pilih bukan orang sembarangan. Mereka terkenal piawai dan berorientasi untuk menang. Trump menjadikan Stephen Bannon, sebagai Direktur Eksekutif di tim kampanyenya. Bannon adalah Direktur Eksekutif Breitbart News, situs berita dan opini.
Bannon meninggalkan posisinya di Breitbart News untuk bergabung dengan tim kampanye Trump. Untuk posisi manajer kampanye, Trump merekrut Kellyanne Conway, politisi dan aktivis perempuan dari partai Republik. Conway sebelumnya bergerak untuk Ted Cruz, namun setelah Cruz kalah, Trump langsung merekrutnya.