- VIVA/Yandi Deslatama
"Tingkat partisipasi pemilih Jumlah DPT sebanyak 152.079.997 orang. Total nasional tingkat partisipasi pemilih sebanyak 73,24 persen," kata Wahyu di Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Jumat, 29 Juni 2018. Menurut catatan KPU, tingkat partisipasi pemilih perempuan bahkan jauh di atas pemilih laki-laki. Perempuan mencapai 76,7 persen, sedangkan pemilih laki-laki hanya mencapai 69,32 persen.Â
Tingginya jumlah pemilih perempuan dan partisipasi mereka dalam Pilkada 2018 bagi Ketua Badan Eksekutif Nasional Serikat Perempuan, Puspa Dewi, tak bisa disikapi sebagai patokan bahwa perempuan telah memiliki peran signifikan dalam partisipasi politik. Sebab, meski jumlahnya lebih banyak dan partisipasinya lebih tinggi dalam Pilkada, perempuan lebih sering dilihat sebagai objek. Bagi Puspa Dewi, jika perempuan hanya dijadikan target elektoral, maka hal itu tidak bisa dinilai sebagai partisipasi politik karena sifatnya semu.
Dewi menegaskan, keterlibatan dalam demokrasi adalah memperjuangkan hak dasar perempuan, bukan sekadar menambah suara. Ia merujuk pada jumlah 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen. Sayangnya, untuk memenuhi unsur 30 persen itu banyak perempuan yang akhirnya diterjunkan ke politik sementara latar belakangnya tak cukup memadai. Akibatnya, mereka tak mampu mengambil peran yang signifikan demi kepentingan kaumnya sendiri.
"Kita melihatnya suara emak-emak atau suara perempuan dalam politik baik yang dilakukan oleh pasangan Prabowo-Sandi maupun Jokowi-Maruf ini hanya sebatas sebagai target suara. Tanpa kemudian menjelaskan apa sih program atau agenda politik yang menjadi agenda masing-masing pasangan calon," ujarnya saat diwawancara VIVA, Rabu, 5 September 2018.
Puspa Dewi mengambil contoh bagaimana pendekatan yang dilakukan para capres dan cawapres masih menggunakan pendekatan figur atau pencitraan. Ia menegaskan, belum melihat para calon bicara soal substansi.
"Jadi saat ini memang perempuan hanya dilihat sebagai target suara saja, tanpa kemudian memiliki agenda-agenda yang memang terkait dengan kepentingan perempuan," ujarnya menambahkan.Â
Puspa Dewi menyadari, jumlah suara perempuan yang cukup banyak membuat suara mereka menjadi rebutan. Sayangnya, suara mereka hanya digunakan untuk mendongkrak angka. Padahal, dengan jumlah suara yang signifikan, perempuan harusnya bisa menjadi subjek bukan hanya objek. Suara perempuan dapat menentukan arah masa depan negeri ini.Â