- Instagram/@teslamodellII
Siapkah kita?
Rencana besar pemerintah untuk memasyarakatkan kendaraan listrik mendapat beragam tanggapan dari banyak pihak. Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus mengatakan, kehadiran mobil listrik berdampak pada sektor usaha otomotif.
"Kendaraan listrik akan mendisrupsi sistem industri otomotif yang ada sekarang ini," kata Yannes saat dihubungi VIVA.
Sebagai ilustrasi, kata Yannes, jika mesin konvensional menggunakan sekitar 800 komponen, maka pada kendaraan listrik hanya ada tiga, yakni motor penggerak, baterai, dan komputer pengatur.
Namun, anggapan itu dibantah Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kecil Menengah Komponen Otomotif Indonesia, Wan Fauzi. "Kan berubahnya bertahap. Kami tidak khawatir menghadapi (era) mobil listrik, optimis saja bisa membuat sesuatu yang lain," kata dia.
Ia tak menampik, dalam memproduksi mobil bertenaga listrik akan ada penyesuaian komponen, baik berkurang maupun bertambah. Akan tetapi, tidak serta merta mematikan industri penunjang yang ada.
Rasa optimistis juga ditunjukkan para produsen kendaraan. Dari sekian banyak merek kendaraan yang ada di dalam negeri, hampir semua menyatakan siap membuat dan menjual mobil listrik.
Kekhawatiran justru ditujukan pada kesiapan pemerintah. Sebab, sukses atau tidaknya program tersebut bukan dari berapa banyak kendaraan yang diproduksi, melainkan ketersediaan infrastruktur penunjang.
“Mobil kami ada, tapi harus dilihat infrastrukturnya, lalu konsumen siap enggak menerima itu. Siap enggak konsumen colok listrik untuk cas mobil di rumah. Kurang lebih begitu. Kalau kayak di Jepang, sudah ada struktur itu," ujar Direktur Pemasaran dan Purnajual PT Honda Prospect Motor, Jonfis Fandy.
![]()
Mobil purwarupa Honda Neuv dipamerkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018. (ANTARA FOTO/Zarqoni Maksum)
Jika pemilik mobil listrik harus mengubah kebiasaan berkendara mereka, dari bisa mengisi bensin di mana saja ke mengecas mobil saat tiba di rumah, maka hal itu belum tentu bisa efektif diterapkan di Indonesia.
Tim riset Institut Teknologi Bandung yang ditunjuk oleh Kemenperin untuk membantu pengembangan kendaraan listrik, mengungkapkan, saat ini hanya empat persen rumah tangga yang memiliki daya listrik di atas 2.200 Volt Ampere.