- Instagram/@teslamodellII
Menurut data dari Ev-volumes, populasi kendaraan listrik di dunia saat ini sudah mencapai 5,4 juta unit. Tahun lalu, 1,2 jutaan unit dikirim ke konsumen, sementara tahun ini diprediksi angkanya naik menjadi 2,1 juta unit.
Dari jumlah tersebut, masyarakat China yang paling banyak menggunakannya, dengan pangsa pasar 51 persen. Jenis yang paling banyak beredar di Negeri Tirai Bambu adalah battery electric vehicle, yang jumlahnya sekitar 73 persen dari seluruh mobil listrik di negara tersebut.
Urutan kedua wilayah pengguna mobil listrik terbanyak adalah Eropa. Di Benua Biru, pada paruh pertama 2018 ada 195 ribu unit yang dibeli konsumen. Disusul oleh AS dengan 122 ribu unit dan Jepang 22 ribu unit.
Keberhasilan China, Eropa, AS, dan Jepang dalam mempopulerkan kendaraan listrik tentunya membutuhkan persyaratan utama seperti faktor customer acceptance, ketersediaan infrastruktur, kesiapan rantai suplai industri otomotif, serta regulasi/insentif yang mendukung.
Impian Jokowi
Usai menghadiri Konferensi Perubahan Iklim di Paris, Prancis pada 2015 lalu, Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk turut serta dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen secara mandiri di 2030.
Berdasarkan pantauan VIVA di laman Waqi.info soal indeks pencemaran udara, kualitas udara di Jakarta menunjukkan angka 175. Pada tabel, angka tersebut masuk dalam kategori sedang. Sementara di China, sebagian dari kawasan di negara tersebut angkanya berada di level sedang hingga sangat tinggi.
Permintaan untuk mendukung gerakan penyelamatan bumi ditanggapi Kementerian Perindustrian, dengan mengeluarkan aturan baru soal jenis kendaraan di Indonesia, termasuk mengakomodir kehadiran kendaraan listrik.
Nantinya, pajak yang dikenakan pada kendaraan diklasifikasikan berdasarkan emisi gas buangnya, bukan lagi bentuk atau model. Kemenperin telah mengusulkan kepada Kementerian Keuangan, mengenai pemberian insentif fiskal kepada industri otomotif di dalam negeri yang memproduksi kendaraan listrik.
Insentif juga akan diberikan pada perusahaan yang mengembangkan teknologi baterai dan motor listrik sebagai penggeraknya. Upaya ini guna memacu produktivitas dan daya saing, sekaligus memperkuat struktur manufakturnya.
“Rencananya, insentif tersebut keluar pada tahun ini, bersamaan dengan insentif lainnya,” kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto melalui rilis yang diterima VIVA, September lalu.