- VIVA
Berbeda dengan Wuling, DFSK bermain di segmen sport utility vehicle. Mobil tersebut dirakit di pabrik mereka yang ada di Serang, Jawa Barat. Sebelumnya, pabrik digunakan untuk memproduksi kendaraan niaga.
Jika dibandingkan dengan Chery dan Geely, Wuling bisa dikatakan mendulang sukses besar. Pencapaian tertinggi Geely adalah 534 unit pada 2012, sementara Chery jauh lebih beruntung di 2007, yakni 752 unit. Kedua merek itu menawarkan mobil jenis city car.
Korea Tenggelam
Meski belum bisa menyaingi mobil-mobil merek Jepang, namun prestasi Wuling dan DFSK sudah lebih baik dari pabrikan otomotif asal Korea Selatan dan Malaysia. Contohnya Hyundai, yang penjualan rata-rata per tahunnya kurang dari 2.000 unit.
Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia, Mukiat Sutikno bahkan mengakui hal tersebut. Ia mengatakan, kehadiran mobil China membuat pasar lebih menarik.
"Kehadiran mobil China, menurut saya menarik. Produk dari China jangan diremehkan. Seperti handphone dari China, awal-awal kita pikir tidak akan bisa berkembang menjadi besar. Tapi, nyatanya tidak seperti itu. Perkembangannya cukup pesat," kata Mukiat beberapa waktu lalu.
Kisah sukses Wuling dan DFSK juga mendapat perhatian dari salah satu produsen mobil asal Jepang. PT Astra Daihatsu Motor melihat, mobil-mobil asal China dianggap menyimpan senjata kuat untuk menguasai pasar nasional.
"Mereka sungguh kuat, terutama soal harganya yang sangat kompetitif, Wuling, Dongfeng, harganya bisa 20 sampai 30 persen lebih murah dari merek-merek normal Jepang. Mereka sangat strong saya pikir," kata Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Tetsuo Miura.
![]()
Hyundai Sanfa Fee special edition
Jenama asal China memang terlihat optimistis di Tanah Air. Mereka tak khawatir dengan citra buruk yang sempat melekat pada produk buatan Negeri Panda. Terlebih, China menganggap kualitas mobilnya kini sudah jauh lebih bagus ketimbang dahulu.
Menurut DFSK, salah satu kunci keberhasilan mereka jadi kuda hitam merek-merek Jepang ada pada harga yang ditawarkan. CO-CEO Sokonindo Automobile, Alexander Barus mengatakan, harga jual mobil Jepang di Indonesia terlalu mahal.
"Terlalu lama konsumen di Indonesia membeli mobil yang terlalu tinggi," kata Alex di kawasan Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu.