- VIVA
Pengamat Otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus mengatakan, munculnya Wuling dan DFSK bisa membuat bisnis mobil merek Korea Selatan di Indonesia tenggelam, khususnya di segmen bawah dan menengah.
"Korea akan semakin tenggelam dalam persaingan di level low hatchback dan low MPV, karena mereka tidak membangun industri perakitannya di Indonesia. Sehingga, secara harga tidak mungkin bersaing," kata Yannes.
Lebih jauh ia menjelaskan, umumnya masyarakat tidak dimungkinkan mendapat fitur-fitur mewah dengan uang terbatas. Tetapi, China justru berhasil memenuhi apa yang diharapkan oleh banyak konsumen di segmen bawah dan menengah.
"Lalu jangan lupa juga, bahwa sebenarnya teknologi General Motors Amerika lah (dengan jumlah saham 34 persen) yang ada di balik mobil Wuling," ungkap Yannes.
Hari sudah sore, saat VIVA keluar dari pintu gerbang pabrik Wuling. Samar-samar, terlihat karyawan pabrik bersiap-siap pulang. Tidak sedikit yang menyempatkan diri untuk berbincang-bincang sembari melepas lelah.
Beberapa dari mereka yang sebelumnya bekerja di pabrik mobil merek Jepang berharap, kehadiran mobil China di Tanah Air tidak hanya membuat industri otomotif nasional lebih maju, namun juga masa depan yang lebih baik bagi keluarga di rumah. (hd)