- ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Dari studi tersebut ditemukan, 58 persen pria dan 47 persen wanita pengguna telepon genggam yang disurvei cenderung merasa tidak nyaman ketika berhadapan dengan situasi: kehilangan telepon genggam, kehabisan baterai atau pulsa, atau berada di luar jaringan.
Sembilan persen selebihnya merasa stres ketika ponsel mereka mati. Sementara separuh di antaranya mengatakan gelisah karena tidak dapat berhubungan dengan teman atau keluarga jika tidak menggunakan telepon genggam.
Fenomena kecanduan ponsel tersebut seolah tak terkesan berbahaya hingga mampu menghilangkan nyawa seseorang. Namun pada kasus bos perusahaan yang diceritakan di awal, jelas ada pihak yang dirugikan, yakni karyawan, sehingga ia mengadukan masalahnya pada surat kabar online.
Akan tetapi, kecanduan ponsel bukan berarti tak berbahaya sama sekali. Bahaya dalam arti berpotensi menyebabkan tewasnya seseorang. Terutama jika dikaitkan dengan kegemaran melakukan swafoto atau selfie.
Maut dari Selfie
Ketika ponsel dengan kamera depan mulai memasuki pasar, selfie menjadi sangat populer. Technology Review melaporkan, pada 2016, sepanjang tahun 2015 ada sekitar 24 miliar foto selfie yang diunggah ke Google Photos. Artinya, selfie benar-benar menjadi tren.
Sayangnya, tren itu disertai data yang tragis. Pada 2014, 15 orang meninggal saat mengambil foto selfie. Angka itu meningkat menjadi 39 korban tewas pada 2015, dan di bulan ke delapan tahun 2016, angka kematian akibat selfie tercatat 73 jiwa. Data tersebut mengacu pada situs Cornell University, arxiv.org.
![]()
Selfie di atas tebing
Di Indonesia, kejadian tragis meninggal karena selfie juga pernah beberapa kali terjadi. Tentu saja kasusnya bukan karena seseorang memotret dirinya sendiri menggunakan kamera depan ponsel kemudian tewas. Namun, kondisi dan lokasi selfie yang menyebabkan seseorang itu berhadapan dengan situasi bahaya.
Contoh yang terbaru, pada 1 Januari 2019 lalu, satu keluarga di Trenggalek Jawa Timur terjebur ke sungai di kawasan air terjun saat swafoto. Korbannya, ayah dan dua anak meninggal, sementara ibu dan anak lainnya luka-luka. “Diduga mereka terpeleset dan meninggal dunia ketika berswafoto (selfie),” ujar Kapolsek Suruh, AKP Yasir.
Sedangkan pada pertengahan 2018 lalu, pelajar SMK di Pacitan Jawa Timur meninggal dunia setelah terseret arus laut Pacitan saat sedang selfie dengan teman-temannya.