SOROT 536

Jurus Hadang Gadget

sorot sosial media - akses internet - smartphone
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Tindakan berani mengambil risiko demi ber-selfie ria, kendati di lokasi berbahaya itu didorong oleh obsesi pamer foto di media sosial. Efek like di Instagram, Facebook, maupun situs jejaring sosial lain, bisa menimbulkan sensasi rasa senang.

img_title Usung Kampanye 'Tenang Saja', Pegadaian Dongkrak Minat Investasi Emas dan Jaga Kepercayaan Nasabah

Hal itu dijelaskan pakar Neurosience UHAMKA, dr. Rizki Edmi Edison, bahwa orang yang mengalami kecanduan gadget, lebih banyak mengakses ponsel untuk berselancar di media sosial ketimbang memenuhi kebutuhan akan informasi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Orang-orang yang mengalami adiksi, kalau dilihat dari persentase, dia melihat handphone itu bukan dilihat untuk mencari sebuah informasi. Tapi kebanyakan untuk bermedia sosial, apakah itu Facebook, Instagram, Twitter, WhatsApp, dan game online,” katanya pada VIVA, Jumat 18 Januari 2019.

img_title Bangun Ekosistem Emas Berstandar Internasional, Direktur Pegadaian Resmi Jadi Ketua Umum IBMA

“Saya ambil contoh di media sosial ya. Anda membuat status di FB atau meng-upload foto di Instagram, post Anda dapat satu like, atau mendapatkan love satu misalnya. Karena Anda newbie (pemain baru), Anda dapat satu like saja pasti merasakan senang. Hore gue dapat satu like,” ujarnya menambahkan.

dr. Rizki menjelaskan, informasi jumlah like itu ditangkap oleh mata kita, masuk ke otak kemudian diantarkan ke bagian otak tengah yang dinamakan centro tagmental area.

img_title 4 Wisatawan Jatuh dari Tebing usai Selfie di Kawasan Pantai Semeti NTB, Satu Tewas

Dari centro tagmental area akan muncul hormon yang dinamakan hormon dopamine. Hormon dopamine itu dilepaskan ke berbagai bagian otak, utamanya ke otak depan, yang dinamakan neucleos acumben. Di sini informasi akan diolah, sehingga hasilnya memunculkan rasa senang. 

“Nah, yang jadi masalah adalah manusia itu kan tidak mengenal batasan rasa puas. Tahun ini punya motor, sudah punya motor, mau ganti mobil, sudah punya mobil, masih kurang, mau tambah mobil lagi, begitu seterusnya,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sifat tak pernah puas ini juga yang mendorong orang untuk memunculkan foto lebih bagus lagi di media sosial, dengan harapan jumlah like bertambah atau orientasi kesenangan dari kepuasan pribadi.

“Karena manusia memang tidak pernah merasa puas, makanya yang dilakukan oleh orang-orang ini adalah stimulasinya diganti, bagaimana cara memunculkan gambar yang lebih bagus agar dapat mendapatkan like yang lebih banyak,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut