SOROT 540

Mengukur Kekuatan Alumni

Peserta mengangkat tulisan ketika mengikuti Deklarasi Nasional Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia yang dihadiri Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Dede Rizky Permana

VIVA – Sebulan lalu, sebuah panggung kecil berwarna kuning berdiri di Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta. Persisnya,  Sabtu, 12 Januari 2019. Di panggung yang dihiasi dengan beberapa bendera merah putih itu terdapat tulisan 'We are alumni UI for Jokowi'. Tulisan berwarna warna kuning dan putih dengan latar belakang hitam.

PDIP Jalani Hari Kedua Rakernas, Jokowi Asyik Gowes Bareng Jan Ethes di Yogyakarta

Sejumlah orang tampak memakai  seragam kuning dan hitam berdiri berjejer di dekat panggung. Beberapa di antaranya adalah elite politik seperti Pramono Anung dan Puan Maharani.

Rupanya, itu panggung yang disiapkan untuk calon presiden petahana Joko Widodo oleh mereka yang mengklaim sebagai alumni Universitas Indonesia. Jokowi yang pada Pemilihan Presiden 2019 ini mendapat nomor urut 01 dijadwalkan menyampaikan pidatonya selama beberapa menit.

Narasi Pidato Megawati Kritis dan Keras, Arah PDIP Lebih Condong jadi Oposisi

Jokowi dan deklarasi alumni UI pendukungnyaDeklarasi dukungan alumni UI untuk Jokowi

Mengenakan kemeja lengan panjang warna putih dengan celana hitam khasnya, Jokowi banyak mengungkap sisi positif dari dirinya saat berpidato. Mulai dari pengalaman saat menjadi wali kota Solo, gubernur DKI Jakarta, sampai presiden. Dia juga menyampaikan keberhasilan-keberhasilan atau program positif dari pemerintahannya seperti dana desa, pembangunan infrastruktur, dan kesehatan.

Demokrat Hormati Usulan PBB Soal Yusril Jadi Menkopolhukam

Sesekali Jokowi juga melempar sindiran-sindiran. Seperti menjadi pemimpin itu harus punya pengalaman. Jadi dia mengimbau masyarakat untuk tidak coba-coba. Tidak lupa, dia juga meninggung soal isu-isu negatif yang menerpanya. Misalnya, antek asing.

Beberapa kali suara teriakan para pendukungnya terdengar ketika Jokowi menyampaikan pidatonya. Apalagi ketika Jokowi menolak klaim bahwa Indonesia akan bubar, Indonesia akan punah, suara pendukungnya semakin bergemuruh.

Di kubu sebelah, Prabowo Subianto juga tidak mau kalah. Calon presiden penantang yang mendapatkan nomor urut 02 itu pun menyampaikan orasi di tengah-tengah ratusan alumni perguruan tinggi yang mendeklarasikan dukungan kepadanya. Mereka yang menyebut diri sebagai alumni UI tak hanya mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi, tapi juga Prabowo.

Peserta mengangkat tulisan ketika mengikuti Deklarasi Nasional Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia yang dihadiri Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta

Deklarasi alumni berbagai perguaruan tinggi untuk Prabowo

Fenomena dukungan para alumni perguruan tinggi kepada capres-cawapres tertentu di Pilpres 2019 ini memang mengemuka. Situasi ini tidak didapati pada Pilpres 2014 yang lalu.

Bahkan tidak hanya di kalangan perguruan tinggi saja, tapi lebih meluas lagi. Misalnya, di kelompok alumni Sekolah Menengah Atas juga merebak, seperti alumni SMA se-DKI yang mendukung Jokowi. Lalu kelompok yang menamakan dirinya Makbul atau Mahakam-Bulungan, bersiap mendeklarasikan dukungan untuk Prabowo-Sandi.

Seberapa Signifikan

Jumlah seluruh pemilih pada Pemilu 2019 mencapai angka 192 juta lebih. Dari jumlah itu, Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Dr Valina Singka Subekti, dalam sebuah kesempatan menyebutkan sekitar 65 persen merupakan tamatan Sekolah Dasar atau tidak tamat SD. Sedangkan sisanya bervariasi, antara lulusan SMP, SMA, dan perguruan tinggi.

Media Survei Nasional pada 1-9 Februari 2018 lalu membedah pemilih Jokowi dan Prabowo berdasarkan tingkat pendidikannya. Disebutkan bahwa tingkat pendidikan pemilih Jokowi yang tidak tamat SD sebesar 40,9 persen, tamatan SD sebanyak 39 persen, tamatan SMP sebesar 37,4 persen, tamatan SMA ada 27 persen, tamatan S1 sekitar 13,7 persen, dan tamatan S2/S3 hanya 10 persen.

Sedangkan tingkat pendidikan pemilih Prabowo yang tidak tamat SD ada 13,7 persen, tamatan SD sebanyak 21 persen, tamatan SMP di angka 22,8 persen, tamatan SMA sebesar 25,1 persen, tamatan S1 ada 34 persen, dan tamatan S2/S3 mencapai 40,0 persen.

Pengamat Politik Indonesian Public Institute Jerry Massie, mengungkapkan kampus dan SMA merupakan kelompok yang sangat potensial dalam konteks Pemilu 2019. Dia menyampaikan dua institusi itu merupakan tempat kalangan milenial berada. Sebanyak 80 juta atau 40 persen dari 192 juta  pemilih ada di kalangan ini.

Menurut Jerry, dampak positif dari deklarasi para alumni itu setidaknya bisa menekan angka golput. Alasannya, mereka merupakan pemilih rasional dan punya logika yang kuat. Selain itu, mereka juga pemilih yang menggunakan etika dalam berkampanye.

"Positifnya yang enggan memilih bisa terpacu dengan kawan satu alumninya yang tak bisa dijangkau oleh capres. Paling penting mengedepankan aspek politik etis bukan hanya politik praktis," kata Jerry kepada VIVA, Jumat, 15 Februari 2019.

Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo menghadiri deklarasi alumni SMA.

Deklarasi alumni SMA mendukung Jokowi

Sementara Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research Center Djayadi Hanan tidak terlalu terkejut dengan tren dukungan alumni perguruan tinggi dan SMA. Dia menilai sebagai hal yang biasa saja karena sebelumnya sudah ada deklarasi lain seperti Persaudaraan Alumni 212, ojek dan lainnya. "Dalam teori kampanye disebut endorsement," kata Djayadi saat berbincang dengan VIVA, Jumat, 15 Februari 2019.

Djayadi menyampaikan segmen perguruan tinggi dan alumni SMA dianggap penting karena mereka bisa memengaruhi orang lain. Selain itu, mereka juga masuk kelompok menengah tinggi, yang secara umum pendapatannya tinggi.

Baginya, kelompok menengah atas punya kemampuan memengaruhi orang lain, tetangganya, pembantunya. Dalam konteks sesama alumni, mereka jadi lebih mudah memengaruhi teman-temannya karena sama-sama kenal, dan enak diajak ngobrol. "Gerakan ini yang bisa memengaruhi elektoral," kata dia.

Tapi dia berpendapat dampak deklarasi alumni ini bagi paslon yang didukung hanya soal pencitraan saja. Misalnya, membantah bahwa tidak benar bila Jokowi didukung oleh masyarakat berpendidikan menengah ke bawah. Begitu juga sebaliknya, bahwa alumni-alumni itu tak hanya mendukung Prabowo saja. "Dampaknya hanya psikologis," ujarnya.

Meskipun demikian, Djayadi tidak menampik deklarasi alumni benar-benar bisa memberikan pengaruh pada elektabilitas capres-cawapres. Syaratnya, setelah deklarasi, mereka benar-benar bergerak.

Contohnya, usai deklarasi mereka membentuk satu jaringan riil di lapangan. Satu alumni mencari minimal 15 orang pemilih baru. Jika mereka bergerak seperti itu maka bisa membantu menaikkan atau menurunkan elektabilitas. Tapi apabila sebatas deklarasi terus bubar, maka tidak ada pengaruhnya secara elektoral.

"Pengaruhnya cuma citra aja. Citra itu kan jadi kosong  juga sekarang menurut saya. Kan deklarasinya ada di Jokowi kemudian di balas oleh Prabowo. Ya sudah kosong-kosong," tegas Djayadi.

Djayadi menekankan kalau ingin dampak lebih jauh, deklarasi itu harus ditransformasi menjadi gerakan akar rumput. Alumni harus bergerak dan itu sangat mungkin. "Selama dua bulan ke depan ditarget satu alumni minimal dapat 10 orang, itu baru akan berpengaruh," katanya.

Apakah gerakan itu memungkinkan? Djayadi tidak begitu yakin. Pasalnya, tindakan itu butuh koordinasi yang sangat intensif. Sementara alumni biasanya orang sibuk. Kecuali ada kesepakatan khusus.

Ditemui terpisah, inisiator Deklarasi Alumni Perguruan Tinggi Dukung Jokowi, Budi Ari, mengaku sangat yakin gerakannya itu dapat memberi dampak signifikan pada capres-cawapres yang mereka dukung. Menurutnya, gerakan kaum intelektual yang bersatu dengan rakyat adalah energi optimisme yang dahsyat.

Budi juga meyakini apa yang sudah dia lakukan itu dalam koridor yang tepat. Salah satu bukti yang dia tunjukkan tindakan kubu sebelah yang melakukan gerakan serupa. "Kalau mereka ikut-ikutan berarti sadar dan paham pentingnya gerakan ini," kata dia.

Reaksi Dua Kubu

Dukungan para alumni perguruan tinggi dan SMA disambut baik kedua kubu. Juru bicara sekaligus Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding, menyebut sebagai pertanda bahwa kelompok terpelajar dan kelas menengah kota mulai bergerak mendukung Jokowi.

Dukungan itu signifikan karena dia beberapa kali ikut terlibat langsung bersama mereka, baik pada saat persiapan deklarasi maupun ketika acaranya berlangsung. "Mereka sudah memiliki langkah menggerakkan seluruh alumni untuk memenangkan Pak Jokowi," kata Karding kepada VIVA, Jumat, 15 Februari 2019.

Karding mengatakan, alumni itu melihat Indonesia akan lebih pas dan cocok dititipkan ke Jokowi. Dalam banyak parameter, mulai dari jejak rekam, Jokowi relatif tidak ada masalah baik sejak jadi pengusaha, wali kota, sampai gubernur.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)  Abdul Kadir Karding

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding

Selain itu, Jokowi juga diklaimnya  memiliki pengalaman dalam memimpin pemerintahan, sudah punya legacy, prestasi, capaian- capaian yang jelas mulai dari infrastruktur, ekonomi, lapangan kerja, dan lain-lainnya. "Jadi orang-orang yang menggunakan akal rasionalitasnya pasti cenderung ke Pak Jokowi," kata Karding yang juga politikus Partai Kebangkitan Bangsa.

Karding pun tidak ragu lagi bahwa deklarasi alumni itu bisa menjadi bola salju dan akan merangsang komunitas-komunitas lain untuk bersuara dan menyatakan dukungan secara terbuka. "Pasti," kata dia.

Apalagi, Karding menyebut mereka yang mendukung Jokowi bukan saja dari kalangan alumni tapi juga relawan dari berbagai komunitas seperti motor, sepeda, purnawirawan. Dia pun mendorong gerakan mereka tidak hanya di kota-kota, tapi juga di kampung-kampung.

Terlepas dari itu, Karding mengakui berdasarkan survei, dukungan dari kalangan kelas menengah kepada Jokowi sejauh ini masih tertinggal. Tapi dia yakin, dengan adanya gerakan dari para alumni itu, dukungan kalangan terpelajar dan kelas menengah akan besar.

Sementara itu, Jubir BPN Prabowo-Sandi Bidang Politik, Andre Rosiade, menilai deklarasi para alumni itu sesuatu yang wajar saja. Hal itu menunjukkan bahwa mereka juga ingin ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi.

Namun dia melihat dukungan alumni ini lebih banyak digunakan kubu lawan. Alasannya, selama ini hasil survei menunjukkan pemilih Jokowi ada di kalangan pendidikan rendah. Dengan dukungan alumni-alumni itu, lanjut Andre, Jokowi ingin menunjukkan, memobilisasi massa agar terlihat didukung oleh masyarakat berpendidikan tinggi.

Politikus Partai Gerindra Andre Rosiade, di Prabowo-Sandi Media Center.

Jubir BPN Prabowo-Sandi Bidang Politik, Andre Rosiade di Media Centre Prabowo – Sandi 

Meskipun demikian, dia mengakui bila tetap ada para alumni yang deklarasi mendukung Prabowo-Sandi. Hanya saja kubunya tidak terlalu memobilisasi. "Kalau dia (kubu Jokowi) kan hampir di mana-mana. Kalau kami jika ada alumni yang mau bikin deklarasi ya bikin aja. Tak kami mobilisasi," katanya.

Ia sendiri merasa dukungan dari kalangan berpendidikan tinggi kepada Prabowo-Sandi sangat solid. Namun BPN tidak mau terlena. Target lain, mengumpulkan dukungan dari kalangan alumni pendidikan rendah.

Dia meyakini gerakan mereka bisa saja menjadi bola salju. Ketika mayoritas kalangan pendidikan tinggi menginginkan perubahan, merasakan hidup susah, maka dampaknya akan semakin besar dan memberi efek baik pada pergantian kepemimpinan pada 2019. (umi)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya