- ANTARA FOTO/Dede Rizky Permana
Seberapa Signifikan
Jumlah seluruh pemilih pada Pemilu 2019 mencapai angka 192 juta lebih. Dari jumlah itu, Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Dr Valina Singka Subekti, dalam sebuah kesempatan menyebutkan sekitar 65 persen merupakan tamatan Sekolah Dasar atau tidak tamat SD. Sedangkan sisanya bervariasi, antara lulusan SMP, SMA, dan perguruan tinggi.
Media Survei Nasional pada 1-9 Februari 2018 lalu membedah pemilih Jokowi dan Prabowo berdasarkan tingkat pendidikannya. Disebutkan bahwa tingkat pendidikan pemilih Jokowi yang tidak tamat SD sebesar 40,9 persen, tamatan SD sebanyak 39 persen, tamatan SMP sebesar 37,4 persen, tamatan SMA ada 27 persen, tamatan S1 sekitar 13,7 persen, dan tamatan S2/S3 hanya 10 persen.
Sedangkan tingkat pendidikan pemilih Prabowo yang tidak tamat SD ada 13,7 persen, tamatan SD sebanyak 21 persen, tamatan SMP di angka 22,8 persen, tamatan SMA sebesar 25,1 persen, tamatan S1 ada 34 persen, dan tamatan S2/S3 mencapai 40,0 persen.
Pengamat Politik Indonesian Public Institute Jerry Massie, mengungkapkan kampus dan SMA merupakan kelompok yang sangat potensial dalam konteks Pemilu 2019. Dia menyampaikan dua institusi itu merupakan tempat kalangan milenial berada. Sebanyak 80 juta atau 40 persen dari 192 juta pemilih ada di kalangan ini.
Menurut Jerry, dampak positif dari deklarasi para alumni itu setidaknya bisa menekan angka golput. Alasannya, mereka merupakan pemilih rasional dan punya logika yang kuat. Selain itu, mereka juga pemilih yang menggunakan etika dalam berkampanye.
"Positifnya yang enggan memilih bisa terpacu dengan kawan satu alumninya yang tak bisa dijangkau oleh capres. Paling penting mengedepankan aspek politik etis bukan hanya politik praktis," kata Jerry kepada VIVA, Jumat, 15 Februari 2019.
![]()
Deklarasi alumni SMA mendukung Jokowi
Sementara Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research Center Djayadi Hanan tidak terlalu terkejut dengan tren dukungan alumni perguruan tinggi dan SMA. Dia menilai sebagai hal yang biasa saja karena sebelumnya sudah ada deklarasi lain seperti Persaudaraan Alumni 212, ojek dan lainnya. "Dalam teori kampanye disebut endorsement," kata Djayadi saat berbincang dengan VIVA, Jumat, 15 Februari 2019.
Djayadi menyampaikan segmen perguruan tinggi dan alumni SMA dianggap penting karena mereka bisa memengaruhi orang lain. Selain itu, mereka juga masuk kelompok menengah tinggi, yang secara umum pendapatannya tinggi.