- Dok. Istimewa
Sedangkan di Eropa dan Amerika Serikat industri uang elektronik lebih mengedepankan privasi.
![]()
Transaksi Gopay
Soal moncernya uang elektronik di China, pakar konsultan manajemen firma konsultan PT Manajemen Kinerja Utama, Yodhia Antariksa mengatakan, kesuksesan di China bisa dilihat dari perkembangan Alipay dan WeChatPay. Dua layanan uang elektronik ini sudah sampai ke gang-gang perkampungan alias warung kelontong.
"Di China regulasi agak longgar. Cepat pertumbuhannya. Mereka booming gara-gara ada fitur angpao elektronik dari WeChatPay," ujar Yodhia.
Dia memprediksi, perkembangan uang elektronik ke tahap selanjutnya butuh waktu yang lumayan. Alasannya, uang elektronik masih menjadi tren dalam beberapa tahun ke depan. Yodhia memperkirakan tren transaksi uang elektronik akan berlangsung cukup lama dari saat ini.
Pratama menambahkan, uang elektronik menyadarkan kalangan perbankan yang sebelumnya tidak banyak bermain dalam tren baru ini.
Selama ini, kata Pratama, perbankan di Indonesia lebih memilih bermain aman dan kurang total dalam berinvestasi dalam sisi teknologi informasi. Barulah setelah melihat banyak platform uang elektronik mengambil keuntungan finansial, bank-bank besar di Tanah Air batu ikut bermain. Makanya, Pratama tak heran dengan munculnya LinkAja yang merupakan gabungan dari uang elektronik BNI, Bank Mandiri, BRI, BTN, Pertamina, Jiwasraya dan Telkomsel.
Promo dan Bakar Uang
Hal menarik dari berkembangnya penyedia uang elektronik ini adalah bagaimana mendapatkan keuntungan. Skema yang banyak dijalankan yakni pertama menarik perhatian pengguna untuk sesering mungkin memakai uang elektronik masing-masing platform dengan cara membakar uang dan mengobral promo.
Jalan membakar uang ini, kata Yodhia sudah dipraktikkan oleh Gopay. Cara ini masih dianggap salah satu paling ampuh untuk menaikkan transaksi uang elektronik.
Yodhia menunjukkan, berdasarkan survei DailySocial, pemimpin pasar uang elektronik di Indonesia saat ini adalah Gopay dengan pengguna mencapai 79 persen dari 1400-an responden yang disurvei, sedangkan OVO sebanyak 58 persen. TCash, yang melebur menjadi LinkAja, dipakai 55 persen responden.
Beberapa waktu lalu, Gopay menjalankan skema promosi besar-besaran dengan cashback 30 persen di banyak merchant. Jelas, kata Yodhia, cara ini untuk bertujuan membuat pengguna loyal menjadi pelanggan Gopay dan akhirnya tetap memakai uang elektronik ini meski tanpa promo lagi.