- U-Report
Dari sejumlah data tersebut, setidaknya diperoleh gambaran begitu akrabnya kaum Z dengan internet yang merupakan salah satu aspek dalam teknologi digital.
Nada Miring Generasi Z
Kelihaian mengandalkan teknologi sebagai bagian dari solusi pemecahan masalah hidup tentu merupakan nilai plus generasi Z. Namun jika bicara ranah dunia digital khususnya internet, bukan berarti tak ada sisi gelap yang mengancam keseimbangan hidup.
Di satu sisi, kalangan generasi Z dilabeli sebagai antisosial karena aktivitas online yang mereka jalani memperlihatkan gestur ‘melulu menatap layar gadget’. Tak peduli di mana pun.
Bayangkan saja jika berdasarkan data Ryan Jenkins, Anda menemukan gen Z yang tiap 15 menit memantau Instagram, ia tentu tampak seperti seseorang yang kecanduan screen time.
Lantas, sejatinya benarkah gen Z antisosial?
Sebuah narasi dari kalangan awam memberi penjelasan bahwa mereka bukan antisosial, gen Z justru sangat sosial hanya saja memiliki cara yang berbeda, yaitu melalui gawai dan perangkat media sosialnya.
Bahkan, sebuah artikel di thriveglobal yang dimuat pada 23 Oktober 2018, mengemukakan generasi Z tak begitu mementingkan interaksi tatap muka, asalkan koneksi di dunia online sudah cukup memadai.
Generasi Z bisa dengan mudah bertemu teman baru secara online. Hanya saja zonasi dan jaringan mereka kadang terkoneksi dengan earphone, sehingga memblokir semua kebisingan di luar (dunia nyata), dan ini tak perlu keluar kamar. Inilah mengapa mereka dicap sebagai generasi antisosial.
![]()
Aksi donasi online di Kitabisa.com
Semua teknologi digital yang tersedia saat ini semua membuatnya lebih mudah untuk terhubung online. Mereka akan menghabiskan sebagian besar waktu berselancar di internet dan memilih versi digital dari semua aspek kebutuhan.
Mereka menghadiri webinar, menonton video di YouTube, kursus online, dan bahkan menemukan pasangan hidup.
Itu adalah hal yang impersonal dan seringkali tidak memerlukan banyak investasi emosional. Jadi, jika sebagian orang men-judge generasi Z sebagai antisosial, sepertinya harus dikaji ulang.
Akan tetapi, yang tak dapat dikesampingkan adalah pandangan sejumlah pakar yang khawatir terhadap keterampilan sosial generasi Z di dunia nyata.