SOROT 558

Jakarta Kian Menua

Kendaraan melintas di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu, 17 April 2019.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

img_title Sejarah Istilah Pria Hidung Belang, Berawal dari Skandal Seks

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ini, kata Anies, fasilitas transportasi nomor satu ialah pejalan kaki, kemudian sepeda, kendaraan umum, dan terakhir kendaraan pribadi. Mantan Mendikbud ini mengklaim, masyarakat mulai mengubah prioritas penggunaannya. Ia berharap, di usia yang baru ini, Jakarta akan semakin banyak bebenah.

img_title Ternyata VOC Belanda Hukum Pezina dengan Benamkan Kepala ke Air Sampai Mati

492 Tahun, sebuah usia yang biasanya sudah merapuh dan menua. Tapi faktanya Jakarta memang terus bersolek mempercantik diri dan memunculkan wajah sebagai ibu kota yang mengacu pada negara-negara maju. Berbagai fasilitas transportasi publik dilengkapi, mulai dari menambah rute Trans Jakarta hingga MRT dan LRT untuk menghubungkan berbagai titik di ibu kota. Jalur trotoar diperbesar, pejalan kaki dimanjakan dengan jalur yang nyaman dan aman.

Dari Sebuah Bandar Kecil

img_title Tanggul Jebol, Banjir Rob Landa Permukiman Warga di Sunda Kelapa

Di awal berdirinya, Jakarta adalah bandar kecil yang menjadi tempat persinggahan dan penghentian kapal-kapal besar dari seluruh dunia. Bandar kecil ini lama kelamaan semakin membesar dan mulai menjadi pusat perdagangan.  Sebelum namanya menjadi Jakarta, kota ini tumbuh dengan berbagai nama.

Awalnya kota ini menjadi bagian dari Kesultanan Banten atau Sunda Pajajaran, sekaligus menjadi lambang kejayaannya. Kota yang akhirnya menjadi pelabuhan ini diberi nama Sunda Kelapa. Tapi pada 22 Juni 1527, Pangeran Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Tanggal penggantian nama ini akhirnya ditetapkan sebagai hari lahir kota Jakarta.

Sholat Ied 1435H di Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa

Pada 30 Mei 1619, Belanda menyerang Jayakarta dan berhasil merebutnya dari Kesultanan Banten. Belanda lalu mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Pada 4 Maret 1621, Jayakarta resmi berubah menjadi Batavia. Tanggal 1 Maret 1945, pada masa pendudukan Jepang, nama kota ini kembali diubah. Jepang mengganti Batavia menjadi Jakarta. Dan akhirnya nama tersebut terus digunakan hingga saat ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagai sebuah pelabuhan, Jakarta adalah kota yang sangat terbuka. Sejarawan Yahya Andi Saputra mengatakan, kota bandar atau kota pelabuhan adalah ibarat orang yang berdiri tegak dan merentangkan tangannya. Sikap berdiri seperti itu adalah sikap yang terbuka dan siap menerima siapa saja.  

"Jakarta kota Bandar itu kan dulu disebut Bandar Kelapa, kemudian ketika kerajaan Sunda Pajajaran berkuasa maka dia berubah namanya menjadi Sunda Kelapa. Artinya bandar, kota pelabuhan, yang dikuasai oleh kerajaan Sunda Pajajaran. Kemudian berubah lagi menjadi Jayakarta, Batavia dan Jakarta. Jadi kota bandar itu artinya kota yang sangat terbuka. Kalau kamu berdiri, kamu bentangkan tangan kamu kamu menghirup udara, maka kamu ibarat kota bandar itu, pelabuhan itu, dan kamu menerima semuanya," ujarnya kepada VIVA.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut