- ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
![]()
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan
Saat ini, kata Anies, fasilitas transportasi nomor satu ialah pejalan kaki, kemudian sepeda, kendaraan umum, dan terakhir kendaraan pribadi. Mantan Mendikbud ini mengklaim, masyarakat mulai mengubah prioritas penggunaannya. Ia berharap, di usia yang baru ini, Jakarta akan semakin banyak bebenah.
492 Tahun, sebuah usia yang biasanya sudah merapuh dan menua. Tapi faktanya Jakarta memang terus bersolek mempercantik diri dan memunculkan wajah sebagai ibu kota yang mengacu pada negara-negara maju. Berbagai fasilitas transportasi publik dilengkapi, mulai dari menambah rute Trans Jakarta hingga MRT dan LRT untuk menghubungkan berbagai titik di ibu kota. Jalur trotoar diperbesar, pejalan kaki dimanjakan dengan jalur yang nyaman dan aman.
Dari Sebuah Bandar Kecil
Di awal berdirinya, Jakarta adalah bandar kecil yang menjadi tempat persinggahan dan penghentian kapal-kapal besar dari seluruh dunia. Bandar kecil ini lama kelamaan semakin membesar dan mulai menjadi pusat perdagangan. Sebelum namanya menjadi Jakarta, kota ini tumbuh dengan berbagai nama.
Awalnya kota ini menjadi bagian dari Kesultanan Banten atau Sunda Pajajaran, sekaligus menjadi lambang kejayaannya. Kota yang akhirnya menjadi pelabuhan ini diberi nama Sunda Kelapa. Tapi pada 22 Juni 1527, Pangeran Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Tanggal penggantian nama ini akhirnya ditetapkan sebagai hari lahir kota Jakarta.
![]()
Pelabuhan Sunda Kelapa
Pada 30 Mei 1619, Belanda menyerang Jayakarta dan berhasil merebutnya dari Kesultanan Banten. Belanda lalu mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Pada 4 Maret 1621, Jayakarta resmi berubah menjadi Batavia. Tanggal 1 Maret 1945, pada masa pendudukan Jepang, nama kota ini kembali diubah. Jepang mengganti Batavia menjadi Jakarta. Dan akhirnya nama tersebut terus digunakan hingga saat ini.
Sebagai sebuah pelabuhan, Jakarta adalah kota yang sangat terbuka. Sejarawan Yahya Andi Saputra mengatakan, kota bandar atau kota pelabuhan adalah ibarat orang yang berdiri tegak dan merentangkan tangannya. Sikap berdiri seperti itu adalah sikap yang terbuka dan siap menerima siapa saja. Â
"Jakarta kota Bandar itu kan dulu disebut Bandar Kelapa, kemudian ketika kerajaan Sunda Pajajaran berkuasa maka dia berubah namanya menjadi Sunda Kelapa. Artinya bandar, kota pelabuhan, yang dikuasai oleh kerajaan Sunda Pajajaran. Kemudian berubah lagi menjadi Jayakarta, Batavia dan Jakarta. Jadi kota bandar itu artinya kota yang sangat terbuka. Kalau kamu berdiri, kamu bentangkan tangan kamu kamu menghirup udara, maka kamu ibarat kota bandar itu, pelabuhan itu, dan kamu menerima semuanya," ujarnya kepada VIVA.