- ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Sejak awal, tutur Yahya, Jakarta telah menjadi kota yang sangat terbuka, karena memungkinkan orang mampir di situ dari segala suku bangsa. Dengan keterbukaannya itu, Jakarta tumbuh menjadi kota yang multikultur. Dan itu yang terus terbawa hingga sekarang.
Sejak periode setelah kemerdekaan, atau sejak tahun 1945 hingga hari ini, ada 18 orang yang pernah memimpin kota ini.
Gubernur pertama DKI adalah Soewirjo. Ia menjabat sejak 23 September 1945 hingga November 1947. Di masa transisi ini tugas utama Soewirjo adalah melakukan nasionalisasi pemerintahan dan kekuasaan kota. Ia juga membantu menyiapkan upacara pengumuman Proklamasi Kemerdekaan RI.
![]()
Batavia Tempo Dulu
Tahun 1948 hingga 1950, posisi Soewirjo digantikan oleh Daan Jahja. Tapi pada 17 Februari 1950 hingga 2 Mei 1951, Soewirjo kembali menjadi Gubernur Jakarta, tugasnya adalah membuat Rencana Dasar Tata Kota. Lalu berturut-turut Gubernur Jakarta adalah Syamsurijal, Sudiro, Soemarno Sosroatmodjo, Henk Ngantung, Ali Sadikin, Tjokropranolo, Soeprapto, Wiyogo Atmodarminto, Soerjadi Soedirdja, Sutiyoso, Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, Djarot Syaiful Hidayat, dan kini Anies Baswedan.
Setiap gubernur yang memimpin menorehkan jejak pembangunan. Mulai dari memeratakan air minum, listrik, pertanahan, perumahan, rumah sakit, pembangunan masjid Istiqlal, Gelora Senayan, Monumen Nasional, membangun jalur by pass, pendirian Taman Ismail Marzuki, hingga penataan penduduk.
Gubernur Ali Sadikin termasuk salah satu gubernur yang fenomenal. Di tangan Ali Sadikin Jakarta dimekarkan menjadi lima wilayah, membangun taman rekreasi margasatwa Ragunan, Taman Impian Jaya Ancol, TMII dan Museum Fatahillah, pembukaan Djakarta Fair pertama di Monas, juga membangun terminal di Lapangan Banteng, Jakarta Kota, Tanjung Priok, dan Blok M, juga 50 halte bus di Jakarta.
Ali Sadikin juga membangun pasar Jatinegara, Grogol, dan pasar induk Cipinang. Juga mendirikan rumah sakit khusus kanker di Slipi.
Meski terus tumbuh dan berkembang, Jakarta punya segudang masalah. Pakar tata ruang perkotaan Yayat Supriatana mengatakan, Jakarta punya problem urbanisasi. Sebab, mereka yang datang ke ibu kota tidak semuanya memiliki mental yang kuat, pendidikan dan pengalaman yang bagus, dan bukan yang memiliki skill.