- VIVA.co.id/Adi Suparman
Ia mengatakan, saat ini radikalisme tidak ada di kampus. Kajian kajian keagamaan bukan mencerminkan radikal, kalau membahas sejarah Islam masa lalu dan masa kini, itu bukan radikal. Begitu pula jika ada kajian untuk membina keluarga Islam supaya kuat dan kreatif dan inovatif, hal itu menurut Amany Lubis juga bukan radikal. Â Ia menegaskan, mahasiswa di kampusnya diberikan kebebasan untuk mengkaji sejarah Islam dan juga mengkaji situasi sekarang di Indonesia dan diberi pilihan untuk memilih mana yang terbaik.Â
"Di UIN Jakarta tidak ada yang radikal apalagi ekstrem. Terlihat dari proses kemarin. Pilpres lancar tidak ada dari UIN Jakarta yang ikut demo, tidak ada yang ikut apapun. Itu mencerminkan UIN Jakarta berdemokrasi secara dewasa dan sangat paham dan tidak mau ikut pada hal hal yang bersifat instabilitas," ujarnya menegaskan.
Komentar dengan tone menerima datang dari kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Rektor UGM Panut Mulyono mengatakan, meski sehari-hari tak terlihat dan tak bisa membedakan dengan yang lain, namun menurutnya hasil riset tersebut memiliki nilai bagi pimpinan perguruan tinggi.Â
![]()
Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
Siapa pun yang melakukan penelitian dan itu memberikan hal yang valid itu hal yang valuable bagi pimpinan perguruan tinggi. Karena dengan penelitian itu bisa mengambil langkah-langkah antisipasi dengan tepat. Kami prinsipnya penelitian dari siapa pun yang datanya valid akan kami terima kemudian kami manfaatkan untuk pengambilan keputusan. Tentang misalnya radikalisme. Bagaimana sebuah universitas harus memberikan tindakan-tindakan atau program untuk menangkal radikalisme. Mendidik mahasiswa baru yang akan masuk ke UGM, kita berikan nilai-nilai," ujarnya.
Panut mengatakan tak ada resistensi pada siapa pun yang akan meneliti. Apalagi pihaknya merasa telah berbuat banyak. "Kalau ada orang yang meneliti silakan saja. Hanya memang metodologinya, data yang diperoleh haruslah valid. Bebas dari kepentingan apapun yang dalam arti ingin mengelompokkan sesuatu. Jangan sampai sebuah penelitian sudah ada kesimpulannya di awal baru data diotak-atik. Ini tidak ilmiah," katanya menambahkan.Â