Pengamat Ekonomi Digital: Agar Tak Rontok, Mulai Efisiensi
- VIVA/Istimewa
Perusahaan sekelas Facebook dan Google saja, dalam setiap laporannya selalu menyebutkan bahwa jumlah pengguna adalah risiko yang harus dihadapi perusahaan. Sebab tidak ada yang loyal dalam menggunakan layanan setiap hari, setiap minggu atau setiap bulan. Dan pendanaan tambahan startup, memperhatikan itu semua: jumlah pengguna, proyeksi jumlah pengguna, perputaran uang. Sedikit saja ada persoalan, maka pendanaan bisa saja berhenti. Memang akan ada upaya masuk ke bursa, tapi apakah ada dapat sambutan hangat atau tidak, ini yang belum diuji.
Apa benar bisnis start up hanya mengejar valuasi?
Valuasi bisnis start up dihitung dari uang atau pendanaan yang sudah masuk. Jadi seperti utang pada para investor. Memang sepertinya valuasi jadi hal yang dituju karena masuk liga unicorn atau decacorn. Tapi belum tentu untung. Dan untuk valuasi ini networking ke luar negeri memang berpengaruh. Yang jelas sih ada ‘Harvard Connection’ untuk perusahaan yang sudah menggenggam status unicorn.
Apa benar banyak start up yang belum untung meski sudah beroperasi lama?
Banyak yang belum untung karena uangnya dibakar terus. Yang jelas yang sudah untung sih ya founder-nya karena kan sahamnya sebagian sudah ditukar.
WeWork dan Uber kolaps dan valuasi mereka melorot padahal mereka sudah menyandang predikat hectocorn. Tanggapan Anda?
WeWork and Uber kolaps karena memang ini bisnis bubble. Semua mau bikin start up dan jadi unicorn dan pendanaan deras masuk. Tapi sedikit saja masalah, gelembung bisnis start up gampang pecah.
Mengapa dua perusahaan start up raksasa tersebut bisa rontok?
Kalau saya melihat kita tunggu 2-3 tahun ke depan. Kalau para unicorn atau decacorn yang ada sekarang tetap moncer, maka akan panjang usianya. Tapi, ke depan akan banyak perubahan. Bulan madu tarif murah akan selesai dan promosi juga dibatasi. Kalau masyarakat tetap membutuhkan, akan terus digunakan dan aplikasi akan bertahan. Kalau masyarakat mencari aplikasi lain, siap-siap saja gulung tikar, meski perusahaan itu tergolong unicorn atau decacorn
Apa yang harus dilakukan start up dalam negeri agar tak mengalami kondisi yang sama?