Mengapa Sukhoi Itu Jatuh

Jerit Tangis Keluarga Korban Sukhoi Saat Menonton Televisi
Jerit Tangis Keluarga Korban Sukhoi Saat Menonton Televisi
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

VIVAnews - Pengusaha ini bergegas ke Halim. Rabu siang 9 Mei 2012. Memakai baju safari biru lengan pendek, dia berangkat bersama istri dan anak. Tiba di pangkalan TNI Angkatan Udara itu jelang siang. Ada undangan dari perusahaan Tri Marga Rekatama. Perkenalan pesawat Sukhoi Superjet 100.  Pesawat itu bikinan Rusia.

Tiba di Halim mereka bergegas mengisi buku tamu. Sudah banyak undangan di situ. Dia sempat melihat pesawat Sukhoi yang dipamerkan itu. Dari luar tampang bagus. Pesawat itu sedang diparkir.

Sesudah bersalaman dengan petinggi Sukhoi, sang pengusaha bersama istri dan anaknya masuk pesawat. Dia memuji penampilan pesawat itu. Desain interior bagus. Kursi-kursi juga terlihat mengkilap. Maklum pesawat baru. Jarak tempuhnya baru 15.500 km. Bisa mengangkut 98 orang.

Kagum dengan model pesawat itu, sang pengusaha  sempat berfoto. Di dalam  dan di tangga pesawat. Difoto berdiri di lorong pesawat. Memakai kacamata hitam. Tangan kiri mengenggam blackberry.

Dia juga sempat duduk di kursi depan. Dari kursi itu dia mendengar pilot tengah ngobrol dengan kopilot. Keduanya berdiskusi tentang rute perjalanan pesawat yang sebentar lagi mengudara. Arah mana yang harus ditempuh. Ke arah gunung atau pantai.  Cuma itu yang didengar. Selebihnya dia lebih banyak melihat interior.

Si pengusaha ini lalu ditawari ikut terbang. Mencoba bagaimana nyamannya melangit bersama Sukhoi. Dia tergoda tapi sore itu ada rapat. Jadi ragu memang. Terbang sebentar lalu mendarat lagi atau segera turun dan melaju ke kantor. Staf sudah menunggu rapat.

Ragu memilih, dia lalu bertanya kepada sang istri. Sang istri tidak setuju. Tak mau terbang. Alasannya, waktu terbang satu jam terbilang lama. Dinasehati begitu dia manut. Mereka lalu turun. Terus melaju ke kantor. Sukhoi itu mengudara pukul dua siang.

Satu setengah jam kemudian, dia mendengar kabar yang membuat bulu kuduk meriang. Pesawat itu hilang kontak. Berkali-kali dihubungi bandara tapi tak bersahut. Di kantornya, si pengusaha itu langsung terduduk lemas. “ Saya langsung sujud syukur,” katanya. Pesawat itu kemudian diketahui jatuh di Gunung Salak. Hancur  berkeping-keping. Semua penumpang tewas.

Dan pengusaha yang beruntung itu adalah Suharso Manoarfa, mantan Menteri Perumahan Rakyat. Setelah mundur dari kursi menteri 12 Oktober 2011, Suharso memang kembali ke dunia usaha. Dia juga merambah  bisnis penerbangan.  Perusahannya sedang butuh pesawat. Untuk penerbangan di kawasan timur Indonesia.

Datang ke Halim Rabu siang itu, Suharso hendak melihat pesawat Sukhoi itu. Jika cocok mungkin bisa dibeli. Meski belum memutuskan membeli atau tidak, Suharso mengaku memetik pelajaran berharga dari kasus ini. “Kalau kita ragu jangan nekat,” katanya. (Baca: Batal Karena Saran Istri).

Selain Suharso sejumlah undangan juga batal terbang bersama pesawat nahas itu. Rupa-rupa sebabnya. Ada yang terlambat sebab terjebak macet Jakarta, ada pula yang terlambat tahu soal undangan itu.

Ada yang  beruntung tapi banyak juga yang nahas. Salah satunya adalah Husdiana Wiganda. Pilot senior dan Manajer Operasional Kartika Air. Salah seorang kerabatnya, Afrizal, berkisah bahwa mestinya Husdiana ikut penerbangan yang pertama. Pukul 10 pagi.
 
Sukhoi itu memang dua kali mengudara. Pertama pukul sepuluh dan yang kedua pukul 2 siang itu. Penerbangan pertama itu diikuti tamu-tamu VIP. Sayangnya Husdiana tidak bisa ikut di penerbangan pertama itu. “Ada barang yang ketinggalan di kantor,” kata Afrizal.

Demi barang yang tertinggal itu, dia terpaksa kembali ke kantor. Lalu memutuskan ikut penerbangan kedua. Pukul dua siang itu. Husdiana tidak sendiri. Ada 45 orang –termasuk awak pesawat-- yang ikut penerbangan kedua itu. Dari catatan buku tamu, lima orang di antaranya adalah wartawan.

Salah satu wartawan adalah Ismi Sunarto dari Trans TV.  Ayah Ismi, Sikun Hadisoenarto, mengaku tidak memiliki firasat apa pun tentang anaknya.  Hanya saja memang ada yang aneh. Malam sebelum naik pesawat, Ismi meminta didoakan agar selamat saat meliput.

Ismi menelepon ayahnya jam 12 malam. “Dia minta didoakan, semoga lancar dan selamat,” kata Sikun dengan suara terbata-bata demi menahan isak tangis. Dan itulah kontak terakhir Sikun dengan anak gadisnya itu.  Sang ayah baru sadar anaknya hilang kontak setelah ditelepon Trans TV. Padahal, kata Sikun sembari berderai air mata, seharusnya Rabu 9 Mei 2012 merupakan hari terakhir Ismi mengikuti pelatihan.

Sukhoi adalah pesawat andalan dari negeri Rusia. Nama itu diambil dari nama belakang Pavel Osipovich Sukhoi. Lelaki ini lahir 22 Juli 1895 di sebuah desa kecil dekat kota Vitebsk, yang kini dikenal sebagai Belarusia. Sukhoi adalah murid Andrey Tupolev, yang dikenal sebagai perintis teknologi penerbangan di negeri Leo Tosltoy itu.

Tahun 1953, Sukhoi mulai mengembangan platform pesawat tempur baru. Ini adalah jet tempur tercanggih negeri itu. Namanya kemudian diabadikan dalam nama pesawat tempur itu. Dia wafat 15 September 1975.

Belakangan Rusia ingin masuk ke bisnis penerbangan sipil.  Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak adalah bagian dari proyek besar ini. Pesawat ini dibikin Sukhoi Civil Aircarft. Perusahaan ini datang ke Indonesia guna mempromosikan kecangihan pesawat itu.  (Lihat Infografik: Sukhoi Superjet 100, Andalan Rusia)
 
Pesawat itu juga sudah dinyatakan laik terbang. Pada Juni 2011, telah menerima sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Rusia (IACAR). Dan Februari 2012, pesawat ini menerima sertifikat dari Badan Keamanan Penerbangan Eropa (EASA). Mengantungi dua sertifikat itu, pabrik pesawat itu lalu promosi ke sejumlah negara.

Sebelum tiba di Jakarta, pesawat itu sudah promosi di sejumlah negara. Jadi sudah melangit beberapa kali. Dan di Jakarta dia sesungguhnya sudah sukses pada penerbangan pertama pukul 10 itu.  Dia mengudara sekitar 40 menit. Yang diangkut adalah pengusaha dan tamu VIP.

Sukses di penerbangan pertama, dia mengudara lagi pukul dua siang. Belum berapa lama di udara dia hilang kontak. “Pesawat take off ke Pelabuhan Ratu pukul 14.12, lost contact pukul 14.33,” kata Kepala Badan SAR Nasional. Marsekal Madya Daryatmo.