SOROT 279

Usman-Harun, dan Aksi Bom Singapura

usman harun sorot
Sumber :
  • VIVAnews/Sonik Jatmiko

img_title 8 Laptop Gaming di Bawah Rp10 Juta untuk Gamer yang Ingin Main Lancar Tanpa Upgrade dalam Waktu Dekat

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejak ditangkap sampai digantung Singapura, Usman sempat mengirim sepuluh pucuk surat kepada keluarganya. Dalam surat itu, Usman berpesan kepada mereka untuk merelakan dia. Semua yang ia lakukan, tulis Usman, semata-mata tugas negara.
img_title Rapat Bareng Komisi III DPR, Erry Riana Tegaskan RUU Perampasan Aset Jangan Berlaku Sembarangan

 
img_title Media Jepang Soroti Aksi ‘Ngambek’ Kevin Diks usai Shuto Machino Cetak Gol Penalti untuk Monchengladbach

Ia juga meminta keluarganya tidak meminta balas jasa kepada pemerintah RI. Meski begitu, pemerintah memberikan santunan Rp100 ribu tiap bulannya kepada ibunda Usman sampai Rokiyah meninggal tahun 1985.
 
Setiap tahun, keluarga Usman mendapat kehormatan diundang ke Jakarta menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun Korps Marinir. Selain itu, rumah sederhana Usman di Purbalingga dijadikan museum oleh TNI. Di dalamnya, tersimpan barang-barang Usman seperti foto-foto dan surat terakhir dia.
 
Harun, anak Romusha
 
Harun bernama asli Tohir bin Said adalah anak seorang romusha –orang Indonesia yang dipekerjakan paksa pada masa penjajahan Jepang. Ketika Harun masih kecil, ayahnya dibawa pergi tentara Jepang. Ia tak pernah kembali.
 
Harun seorang anak pemberani dan bandel. Dia sering pergi ke hutan sendirian. Kadang dia tidur di kuburan dekat rumahnya. Selama bersekolah, Harun kerap membolos. Ia optimistis akan pandai dengan sendirinya meski jarang masuk sekolah.
 
Kendati malas sekolah, Harun amat rajin membantu ibunya bertani di sawah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka di Desa Ciponggo, Pulau Bawean, Gresik. Harun sadar betul keluarganya miskin. Sambil bersekolah, dia bekerja sebagai pelayan di kapal dagang.
 
Pekerjaannya itu membuat dia bisa tinggal berhari-hari di Pelabuhan Singapura.  Ia juga bergaul dengan banyak orang. Tak heran, Harun menguasai tiga bahasa asing sekaligus –Inggris, China, dan Belanda.
 
Keluarga Harun tak pernah tahu ia bergabung dengan TNI AL. Mereka baru sadar setelah Harun dipenjara Singapura. Melalui kerabat di Singapura, keluarga diberi tahu tak ada rasa takut di wajah Harun meski tahu akan digantung.
 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Sepeninggal Harun,  pemerintah memberikan perhatian kepada keluarganya. Aswiyani, ibundanya Harun, misalnya diberangkatkan haji gratis ke Mekkah oleh pemerintah. Ia juga diberi rumah di Jakarta. Tapi rumah itu akhirnya dijual karena kebutuhan ekonomi. Bantuan uang, dan juga beras, itu terus mengalir setiap bulan, sampai Aswiyani wafat pada 1996.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut