SOROT 306

Malang, Tawarkan Kenyamanan Bisnis

Tugu Balai Kota di Malang, Jawa Timur.
Sumber :
  • VIVAnews/Dyah Ayu Pitaloka

VIVAnews – Kawasan Dinoyo di Kota Malang tak pernah sepi. Ratusan kendaraan lalu lalang. Kemacetan saat pagi dan sore bukan lagi pemandangan istimewa.
 
Maklum, di sepanjang Jalan Dinoyo Raya, berderet sekolah hingga perguruan tinggi. Denyut perekonomian juga menumpuk di lokasi itu.
 
Seperti terlihat pagi itu. Jarum jam telah menunjuk pukul 07:30 WIB. Matahari bersinar cerah. Aktivitas warga mulai menggeliat.
 
Mita salah satunya. Ibu rumah tangga berperawakan kecil ini mengawali tugas rutin setiap pagi. Mengantar Zen, putra keduanya, ke sebuah Play Group. Tak jauh, hanya berjarak satu kelurahan.
 
Warga Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang itu cukup menghabiskan waktu 10 menit untuk sampai di sekolah Zen. Sejurus kemudian, pukul 08:00 WIB, wanita kelahiran Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah itu sudah berkutat dengan bisnis bakery di kafenya.

Mita datang ke Malang sejak kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang, pada 2005. Di kota pelajar ini, dia mantap berkeluarga dan membangun bisnis bersama suaminya, Dliaulhaq (32).
 
“Di sini, bisnis apa pun tumbuh, kompetisinya ketat, pasarnya juga besar. Ada ribuan mahasiswa yang tidak pernah berkurang jumlahnya,” kata Dliaulhaq.
 
Pria kelahiran Cirebon ini sudah fasih berbahasa Malangan. Sejak kuliah pada 1998 di Universitas Brawijaya, dia mulai merintis usaha sampingan menjual baju.
 
Kini, usahanya menggurita dan punya merek sendiri yang menjelajah Kalimantan, Sumatera, Sulawesi hingga Papua. ”Tapi, saya tak berniat pindah ke luar Malang, meski transportasi membuat macet dan kompetisi semakin ketat,“ ujarnya.
 
Alasan Aul, sapaan Dliaulhaq, setidaknya ada 30 ribu mahasiswa baru yang masuk ke Malang tahun ini. Mereka berlomba masuk ke salah satu di antara 62 perguruan tinggi negeri dan swasta di Malang.

Seperti Mita dan Aul, tidak sedikit mahasiswa yang kemudian mencari penghidupan dan sukses di Kota Malang. Ibarat ada gula ada semut, legitnya perputaran uang di Malang menarik banyak peminat untuk ikut “berputar” di dalamnya. 
 
“Produksi khas kaus saya adalah kaus couple atau sepasang. Pasarnya, ya mahasiswa. Kalau ramai, satu bulan bisa produksi sampai 2.000 pieces,” kata Aul.
 
Begitu pula kafe dan bakery yang dikelola istrinya. Harga roti mini sengaja dibanderol Rp1.000 per biji untuk memenuhi kantong mahasiswa, “Kan suka yang murah, tapi tongkrongannya bergengsi,” katanya.
 
Kota Peristirahatan

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Menhub Usut Kapal Virgo Transport 8 Diduga Tak Laik Impor
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut