- VIVAnews/Fajar Sodiq
Distribusi air memanfaatkan sistem gravitasi. Satu rumah cuma membayar Rp 25 ribu jika menghabiskan banyak air. Alat meter air sederhana dipasang untuk mengukur debit air yang digunakan di setiap rumah.
Hanya saja kondisi itu tak berlangsung lama. Pipa sambungan yang melintas sungai dicuri orang. “Sudah tiga kali ini. Terakhir dua tahun lalu. Sampai sekarang belum kami pasang lagi,” lanjut Kusnan yang juga Kaur Keuangan Dusun Blandit Timur. Nampaknya perbaikan penghidupan tak merata dirasakan seluruh warganya.
Praktis, warga pun kembali mengandalkan tandon sumber air Tretes. Meskipun harus antre berjam-jam namun jaraknya relatif lebih dekat ketimbang harus berjalan 1 kilo naik bukit ke Dusun Banyol.
Namun, Sumber Tretes kini tak lagi bersahabat seperti puluhan tahun lalu. "Sejak 2010 tandon selalu kering jika musim kemarau tiba, hutan di atas bukit gundul. Pohonnya diganti tanaman jagung dan singkong,” kata Islamiyah, melanjutkan.
Akibatnya hampir setiap Agustus hingga Oktober kekeringan melanda Blandit. Jika sedang buntung kekeringan bahkan berjalan sampai Desember.
Bagi warga yang punya kendaaraan bermotor mengambil air di Dusun Banyol lebih mudah ketimbang warga yang harus berjalan kaki. Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang rutin droping air dua hari sekali di dusun tersebut.
Seperti yang terjadi pada Selasa 9 September 2014 lalu. Deretan jirigen air mengantre untuk diisi mobil tangki milik PMI. Hiruk pikuk warga berebut menempatkan jirigen di ujung terdekat dengan selang air mobil. Puluhan warga yang sebagian besar wanita, sigap menunggu dan mengambil jirigen jika telah penuh.
Mereka, membawa dua jirigen air menggunakan pikulan dari kayu. Dengan langkah cepat, tanpa beralas kaki, mereka membawa air dengan hati-hati.
Memastikan air tak tumpah dan terbuang percuma di sepanjang jalan. Seorang wanita tampak menjinjing jirigen dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya sibuk membetulkan posisi gendongan seorang anak balita.
Tanpa air bersih nasi jagung dan tiwul tak bisa direbus. Beras punel hasil buruh tani di sawah orang hanya akan memenuhi lumbung tanpa bisa dimasak.
"Sebagian warga di sini adalah buruh tani, buruh lepas dan kuli bangunan,” kata Kusnan.