- REUTERS/Luc Gnago
![]()
Petugas mengevakuasi jenazah pria yang meninggal karena virus Ebola di Monrovia, Liberia. (Foto: REUTERS/James Giahyue)
Tahun ini, virus ebola “menggila” di tiga negara, yakni Guinea, Sierra Leone dan Liberia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan Kamis 18 September 2014, jumlah korban tewas akibat virus ini sudah mencapai 2.630 orang. Sejauh ini, virus tersebut telah menginfeksi sedikitnya 5,357 orang di Afrika Barat.
Jumlah kasus ebola di Liberia meroket terutama “disumbang” dari peningkatan jumlah pasien di ibu kota Monrovia. Kota ini sangat kekurangan alat kesehatan, salah satunya ruang rawat inap. Monrovia membutuhkan 1.210 ruang rawat inap, lima kali lipat dari yang tersedia saat ini.
Tak ada tanda-tanda epidemi ebola itu akan mereda. Alih-alih mereda, virus yang belum ada obatnya ini sudah menyebar hingga ke Nigeria dan Senegal.
Di tempat terpisah, wabah ebola juga muncul di Republik Demokratik Kongo. Data WHO per 15 September 2014, dikutip dari Reuters, 40 orang tewas dari 71 pasien yang terinfeksi ebola.
Asal Penularan
Wabah yang bernama internasional ebola haemorrhagic fever itu pertama kali muncul tahun 1976 dalam dua wabah simultan. Pertama di Nzara, Sudan dan kedua di Yambuku, Republik Demokratik Kongo. Yang terakhir adalah di sebuah desa yang terletak di dekat Sungai Ebola. Dari nama sungai inilah virus itu dinamai.
Seperti HIV dan flu, Ebola merupakan virus yang material genetiknya terkandung dalam asam ribonukleat (RNA), bukan asam deoksiribonukleat (DNA). Virus RNA dikenal melalui perubahannya yang cepat, namun mendapat julukan dari para ahli sebagai 'virus ceroboh.'
Pasalnya saat mereplikasi diri, virus RNA membuat duplikat dirinya yang penuh dengan kesalahan. "Tapi sebagian besar kesalahan atau perubahan itu hanya mutasi yang tidak relevan," jelas Anthony Fauci dari Institut Nasional AS Untuk Alergi dan Penyakit Menular.
Dikutip dari laman WHO, sebetulnya “tuan rumah” alami virus ebola adalah kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae. Namun, virus ini kemudian bisa berpindah ke tubuh manusia.
Ebola masuk ke populasi manusia melalui kontak langsung dengan darah, sekresi, dan cairan tubuh lainnya dari hewan yang terinfeksi. Di Afrika, transmisi itu tercatat melalui penanganan simpanse yang terinfeksi, gorila, kalong, monyet, kijang hutan dan landak ditemukan sakit atau mati di hutan.
Ebola kemudian menyebar di masyarakat melalui transmisi manusia ke manusia. Transmisi virus antarmanusia ini terbagi dua. Pertama, kontak langsung (melalui kulit rusak atau selaput lendir) dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi.
Kedua, kontak tidak langsung dengan lingkungan yang terkontaminasi dengan cairan tersebut. WHO mengingatkan, upacara pemakaman di mana pelayat memiliki kontak langsung dengan tubuh orang yang meninggal juga dapat berperan dalam transmisi ebola.
Bahkan, pria yang telah sembuh dari penyakit ini masih bisa menularkan virus melalui air mani hingga 7 minggu setelah sembuh dari penyakit.
Para ahli kini tengah khawatir dengan kemungkinan virus bermutasi sehingga bisa menular lewat udara. Direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular di Universitas Minnesota, Michael Osterholm, dalam artikelnya yang dikutip Reuters, yakin bahwa ancaman penyebaran Ebola melalui udara adalah nyata.
"Hingga kita mempertimbangkannya, maka dunia tidak akan siap melakukan apa yang perlu untuk mengakhiri epidemi," ujar pakar penyakit menular Amerika Serikat (AS) itu.
Risiko Tinggi
Ada tiga kelompok orang yang beresiko tinggi terpapar virus ebola. Mereka adalah pekerja kesehatan, keluarga yang salah satu anggotanya terinfeksi ebola, dan terakhir, pelayat yang kontak langsung dengan jasad terinfeksi ebola.
Gejalanya yang mirip dengan sakit biasa, membuat penderita kadang lengah. Simtom khas penyakit ebola yang dilansir WHO adalah:
1. Demam mendadak
2. Tubuh sangat lemah
3. Nyeri otot
4. Sakit kepala dan tenggorokan
Gejala khas itu kemudian diikuti oleh:
1. Muntah
2. Diare
3. Ruam
4. Gangguan fungsi ginjal dan hati
5. Pendarahan internal dan eksternal (dalam beberapa kasus).
Biasanya ada gejala lain yang bisa diketahui melalui uji laboratorium, yakni jumlah sel darah merah dan trombosit rendah. Sebaliknya, enzim hati tinggi. Penyakit mematikan yang satu ini memang hanya bisa dipastikan melalui uji laboratorium saja.
Masa inkubasi virus ini—sejak terinfeksi virus hingga muncul gejala—bervariasi mulai dari dua sampai 21 hari. Selama masa inkubasi itu, manusia terinfeksi belum berbahaya bagi manusia sehat di sekitarnya. Si penderita jadi ancaman serius ketika gejala-gejala di atas muncul.
Kapan seorang tersangka ebola harus menemui dokter? WHO menjawab, mereka yang memenuhi syarat: baru saja dari wilayah yang terkena wabah ebola; kontak langsung dengan manusia lain yang diduga mengidap ebola; dan, menderita gejala-gejala di atas.