- VIVAnews/Diki Hidayat
VIVAnews - Bongkahan batu itu teronggok di halaman sebuah rumah. Beratnya sekitar 25 kilogram. Teksturnya kasar, dengan bagian tengah berwarna kuning kecokelatan.
Secara kasat mata, tidak ada yang istimewa. Layaknya bongkahan batu biasa. Tapi, siapa sangka, tak mudah mendapatkan batu itu.
Dani (34), sang penambang, warga Kampung Tanjakan Pasang, Desa Sukarame, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, perlu berminggu-minggu memburu bongkahan batu itu. Dia sudah menekuni profesi itu sejak usia 12 tahun.
"Sudah 20 tahun lebih jadi penambang, sejak keluar SD," ujar Dani saat ditemui VIVA.co.id, Rabu, 26 November 2014.
Ya, dari bongkahan batu itu, batu akik berasal. Batu yang kini nilainya bisa mencapai jutaan hingga miliaran rupiah. Ladang bisnis baru pun mencuat.
Kondisi ini barangkali yang sedang dialami sebagian masyarakat saat ini, seiring menjamurnya penggemar batu akik yang kian mewabah. Hampir sebagian besar warga di perkotaan maupun perkampungan, kini senang membicarakan batu akik.
Bahkan, bukan hanya di kalangan masyarakat, pegawai di lingkungan pemerintahan, Kepolisian maupun TNI, serta perusahaan swasta juga ikut menggilai batu akik.
Puluhan perajin batu akik pun mendapatkan berkah, karena selalu dijejali para penggemar, untuk membuat batu akik sesuai selera, dengan berbagai bentuk maupun jenis.
Namun, bisnis batu akik ini sebetulnya sudah lama menjamur. Pertumbuhan bisnis ini didorong oleh minat masyarakat pencinta batu akik. Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak, kepada VIVA.co.id, Rabu malam 26 November 2014.
"Kadang-kadang, kalau bertanya pada orangtua kita dahulu yang hobi mengoleksi batu akik, mereka pasti memiliki koleksi pribadi beberapa batu akik kesayangannya," kata dia.
Namun, Nus mengaku bahwa bisnis batu akik ini tengah booming kembali, didorong oleh hobi dan kesukaan pencinta batu akik. "Batu akik, harus kita akui telah tumbuh menjadi salah satu aksesori penampilan yang menarik bagi kaum pria," ujarnya.
Tak hanya didorong oleh minat tertentu, pertumbuhan bisnis batu ini juga didorong dengan gaya hidup. Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah, di tempat terpisah, mengatakan bahwa batu-batuan acapkali memang dijadikan sebagai perhiasan.
"Sejalan dengan lifestyle Jawa (batu akik kerap digunakan untuk mata cincin), juga dipastikan kelas menengah ke atas sudah pasti ingin bergaya. Salah satunya, batu yang dihadirkan mereka untuk tampil lebih baik," kata Euis ketika dihubungi VIVA.co.id.
Euis mengungkapkan bahwa jumlah perajin batu, menurut perhitungan kasar, saat ini ada sekitar 200 perajin batu. Sementara itu, penjualnya mencapai ribuan orang.
Perputaran uang Rp10 miliar
Pasar batu akik memang bergantung pada hobi dan minat pencinta batu ini. Tetapi, potensi pasarnya pun cukup bagus.
"Peningkatan permintaan batu akik ini dapat dilihat dari perputaran uang yang terjadi di Jakarta Gems Center di Rawa Bening, yang kisarannya Rp5-10 miliar per hari," kata Nus.
Nilai tersebut, lanjut mantan Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan itu, diperoleh dari penjualan batu akik per butir yang berkisar Rp35 ribu-2 juta.
Bisnis batu akik pun, dia menambahkan, turut mendorong bisnis turunannya, seperti emban dan pengolahan batu. Disebutkan kedua bisnis ini bersifat komplementer.
Pemerintah turut mendukung upaya pertumbuhan bisnis batu akik ini. Memang, bisnis ini kebanyakan digeluti usaha kecil dan menengah (UKM).
Kementerian Perindustrian, kata Euis, ikut membantu industri batu akik, yang masuk ke dalam kategori perhiasan ini, dengan memberikan pelatihan serta bantuan alat, pemasaran produk, dan ekspor.
Nus pun sependapat, pemerintah mendorong tumbuhnya sentra penjualan batu akik seperti di Jakarta, yaitu Jakarta Gemstone di Pasar Rawa Bening dan Gemstone Grand Cakung.
Selain di Jakarta, upaya pemerintah mengembangkan bisnis batu akik juga dilakukan di tempat lain yang berpotensi sumber daya mineral itu, seperti di Jawa Barat, Banten, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara.
"Upaya lainnya yang dilakukan pemerintah daerah maupun pusat dalam mendukung pertumbuhan bisnis batu akik adalah dengan mengikutsertakan pengusaha perhiasan, termasuk batu permata dan akik pada ajang promosi dagang baik di tingkat nasional maupun internasional," kata dia.
Sementara itu, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga ikut andil mendorong usaha batu akik ini. Deputi Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Emil Suhaimi, mengatakan, pihaknya cenderung membidik pelaku usahanya.
"Kalau kami, cenderung ke pemberdayaannya, misalnya memberi akses pasar dan memfasilitasi (pengolahan batu) dengan teknik produk terbaik. Dia pakai teknologi apa, kami berikan akses ke sumber daya manusianya," kata Emilia ketika dihubungi VIVA.co.id.
Lalu, adakah nilai perdagangan bisnis ini?