- VIVAnews/Alfin Tofler
Komunitas yang beranggotakan ratusan orang ini berkomitmen meminimalisasi kerusakan kawasan sungai, khususnya yang mengalir ke DKI Jakarta. Upaya itu dilakukan agar banjir tak terus terjadi.
"Kami sudah menanam puluhan ribu pohon bambu beragam jenis di sepanjang Kali Pesanggrahan hingga ke kawasan Gede Pangrango. Entah siapa yang menikmati, yang penting bagi saya dan anggota komunitas, Jakarta jangan banjir lagi," Bang Idin menjelaskan.
Menurut dia, banjir di Jakarta memang terlalu pelik. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengantisipasi bencana dan minimnya sentuhan kearifan dalam pembangunan memperparah kondisi tersebut.
Ia mencontohkan upaya pemerintah menangani banjir dengan membangun pelapis beton di sepanjang sungai. Upaya itu terkesan sia-sia dan berbiaya tinggi. Buktinya, banjir tetap tak tertangani dengan baik.
Padahal, berdasarkan sejarah, penanganan banjir telah dilakukan oleh leluhur. Salah satunya dengan penanaman bambu di sepanjang bantaran sungai.
“Sejak abad ke-8, di zaman kerajaan, orang-orang kita telah menanam bambu di sepanjang sungai. Tapi, lihat kini, bambu-bambu ditebang dan dibuang bahkan diganti dengan beton. Ini menjadi bukti bahwa pembangunan kita tak berlandaskan kearifan leluhur," ujarnya.
Untuk itu, hingga saat ini Bang Idin bersama warga terus berjuang mempertahankan kawasan sungai agar terjaga ekosistem dan kebersihannya.
"Sejauh ini, sudah sekitar 120 hektare lahan yang kami kelola bersama di sepanjang Kali Pesanggrahan hingga ke kawasan Gede Pangrango. Kami swadaya, dan belum pernah dibantu pemerintah. Prinsipnya kami cuma ingin berbuat dan melakukan apa yang bisa memberikan manfaat sebanyak mungkin untuk Jakarta dan masyarakat," tuturnya.
![]()
Bang Idin bersama warga terus berjuang mempertahankan kawasan sungai Pesanggrahan agar terjaga ekosistem dan kebersihannya. (Foto: VIVAnews/Tri Saputro)
Komunitas Dibentuk, Kesadaran Dipupuk
Bang Idin tak sendiri. Sejumlah warga di bantaran Sungai Ciliwung juga melakukan gerakan serupa. Misalnya komunitas yang didirikan warga di Kelurahan Condet Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Mereka bahu membahu membersihkan sungai dan menjaganya agar tak menimbulkan petaka. Aktivis Komunitas Ciliwung Condet, Abdul Kodir (40) menjelaskan, warga mendirikan komunitas guna menangani kerusakan Sungai Ciliwung, khususnya yang melewati permukiman mereka.
“Sungai Ciliwung sudah mengalami kerusakan sehingga butuh peran serta masyarakat,” kata Abdul Kodir kepada VIVAnews, Rabu, 3 Desember 2014.
Menurut dia, banyak kerusakan yang terjadi di sungai yang membelah Jakarta tersebut. Dulu, hampir 90 persen wilayah Condet merupakan ruang terbuka hijau (RTH). Namun, sekarang sudah berubah, sudah banyak wilayah hijau yang hilang.
“Dulu di bantaran Condet itu banyak kebun buah. Sekarang banyak pembangunan perumahan, ada alih fungsi lahan,” ujarnya.
Abdul Kodir menjelaskan, banjir yang sering merendam permukiman warga merupakan dampak dari rusaknya ekosistem dan lenyapnya daerah tangkapan air. Untuk itu, mereka harus memulihkan daerah tangkapan air dan memperbaiki setu. Selain itu, mereka harus menambah RTH serta melindungi daerah resapan air.
“Selama daerah yang menjadi tangkapan air rusak atau hilang, sulit kita mengantisipasi banjir,” dia menjelaskan.
Namun, sama seperti Bang Idin, Komunitas Ciliwung juga tak mendapat bantuan dari pemerintah. Mereka bergerak secara swadaya, bekerja memperbaiki kawasan sungai untuk mengantisipasi banjir. “Mungkin pemerintah tidak tertarik dengan kami, karena di sini tidak ada korban nyawa. Jadi mungkin tunggu korban nyawa dulu,” tuturnya.
Tak hanya di Condet, komunitas serupa juga ada di sejumlah wilayah yang dilalui Sungai Ciliwung. Di Depok, Jawa Barat misalnya. Berangkat dari keprihatinan terkait rusaknya Sungai Ciliwung, sejumlah warga di Depok membentuk komunitas.
"Kami bentuk sejak tahun 2010. Sebabnya, di wilayah Kalimulya Depok ada pembangunan perumahan yang mengeruk bantaran sungai. Keanehan ini yang kami protes. Kami juga mempengaruhi dan mengajak warga sepanjang sungai agar ada perhatian di wilayahnya," ujar Taufik DS, salah seorang pegiat komunitas ini kepada VIVAnews, Kamis 4 Desember 2014.
Komunitas ini juga dibentuk untuk mendeteksi terjadinya banjir. Selain itu, komunitas ini aktif melakukan imbauan atau sosialisasi larangan buang sampah ke sungai.