SOROT 322

Lewat Alam Mereka Belajar

anak-anak sekolah alam bogor
Sumber :
  • sekolahalambogor.com

img_title 10 Bandara Alternatif yang Beroperasi 24 Jam Guna Percepat Pemulihan Penerbangan Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi pada dasarnya sama, yang membedakan metode pengajarannya saja. Jadi pertama, anak belajar langsung pada sumbernya. Alam atau apapun. Kita menyebut guru di sini fasilitator. Pada dasarnya belajar itu fitrah setiap manusia. Kita pakai nilai Islam. Bentuk kegiatannya akhlak, leadership dan kognitif," kata Ludfiono.
img_title Pujian yang Tak Pernah Dibayangkan Igor Tolic dari Pendukung Persib


img_title Prabowo Minta Anggaran Mitigasi Bencana Ditambah, Begini Respons Purbaya
Ludfiono yang bergabung di sekolah alam sejak 2005 lalu menyebut sebetulnya, metode pengajaran di sekolah alam yang dikelolanya, mirip dengan kurikulum 2013 yang baru saja dicabut pelaksanaannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan. Baginya, kurikulum itu bukanlah produk baru. Sebab, sejak tahun 1998 lalu, sekolah alam sudah menerapkan metode yang menyerupai kurikulum itu. Dimana siswa diajak lebih aktif melalui pendidikan karakter yang tematik.

Kenapa Sekolah Alam


Pembentukan karakter yang dibangun sekolah alternatif, seperti sekolah alam, diakui Achmad Fauzie (44). Fotografer di sebuah media massa nasional ini memilih menyekolahkan anak-anaknya di sekolah alternatif. Bahkan satu dari tiga anaknya memilih home schooling setingkat SMA. Sedangkan dua anak lainnya menuntut ilmu di sekolah alam setingkat SMP.

"Anak saya yang home schooling memang nggak mau belajar di sekolah formal. Dan, saya mendukung keinginannya tersebut," kata Fauzie.

Sulungnya itu tertarik belajar desain pakaian dan bisnis. Sementara dua hal ini tidak dipelajari di sekolah formal setingkat SMA. Fauzie pun mendukung keinginan sang anak, Zahratul Fauziah. Sebab ia juga bisa terlibat langsung dalam proses belajar dan pengawasan sang anak. Remaja berusia 15 tahun yang biasa dipanggil Rara ini sudah berencana menghabiskan waktu selama dua tahun untuk belajar desain pakaian dan bisnis. Sedangkan di tahun ketiga, Rara akan menyiapkan diri  menghadapi ujian kejar paket C untuk masuk jenjang perguruan tinggi.

"Saya tidak khawatir dia tidak kuliah. Dengan ijazah paket C setara SMA, dia bisa kuliah di perguruan tinggi mana pun yang dia inginkan," kata Fauzie.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Bukan hanya tidak takut anaknya tak kuliah, Fauzie juga tak khawatir si anak akan menjadi "kuper" alias kurang pergaulan. Rara di matanya cukup gaul. Dia bahkan ikut sejumlah les dan bergabung dengan komunitas yang mendukung proses belajarnya. Misalnya, komunitas public speaking untuk mengasah kemampuan bahasa asingnya. Sebagai orangtua ia bertekad memfasilitasi apapun kebutuhan si anak.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut