Sumber :
- sekolahalambogor.com
Rara kepada VIVAnews menuturkan, sengaja memilih sekolah di rumah karena ingin fokus dengan bidang yang akan digelutinya kelak di masa depan. Rara merasa memiliki potensi di bidang desain pakaian dan bisnis, sehingga ia ingin memaksimalkan potensinya tersebut. "Saya tidak akan bisa mendapatkan pembelajaran yang fokus sesuai dengan minat saya itu di sekolah formal," kata Rara yang sudah tertarik metode home schooling sejak di sekolah dasar.
Baginya sekolah formal tidak efektif. Sebab kalau hanya agar bisa kuliah di perguruan tinggi, ia bisa ikut ujian kejar paket C. Karenanya, ketimbang menghabiskan waktu tiga tahun di sekolah formal dan mengejar Ujian Nasional, ia memilih menghabiskan waktu dua tahun mengejar sesuatu yang memang benar-benar diminatinya.
"Di Indonesia, ijazah itu penting sekali. Tapi buat aku tidak. Yang penting aku berprestasi. Aku suka desain baju dan bisnis, dan itu tidak ada di sekolah formal kecuali les," kata Rara yang juga memilih belajar mandiri untuk pelajaran setingkat SMA.
Meski membiarkan si sulung memilih jalur home schooling, untuk dua anaknya yang lain, Tsalitsah Alifah Mustagforoh dan Itsna Sukma Sakinah, Fauzie memilihkan sekolah alam. Alasannya, ia ingin kedua anaknya yang kini duduk di kursi setingkat SMP itu memiliki karakter dan akhlak yang baik. Sekolah alam dinilainya mengajarkan karakter dan kemandirian. Hal yang tidak didapat di sekolah formal yang lebih mengajarkan unsur kognitif dan pengetahuan semata. Sekolah formal dianggapnya hanya mengajarkan nilai, dan tidak jarang murid didik melakukan segala cara untuk mendapatkan nilai yang bagus.
"Saya tidak menginginkan nilai anak saya bagus. Yang saya inginkan anak saya memiliki karakter bagus, berakhlak, mandiri dan bertanggung jawab. Saya tidak mendapatkan pendidikan karakter, moral, akhlak dan tanggung jawab di sekolah umum. Itu poin penting mengapa saya menyekolahkan anak saya di sekolah alam," katanya.
Di sekolah alam, kata dia, semua pembiayaan ditanggung bersama. Orangtua hanya membiayai aktivitas siswa. Bahkan seringkali siswa mencari dana sendiri saat akan melakukan kegiatan. Seringkali siswa mencari dana dengan berjualan untuk pergi ke suatu tempat, misalnya mengunjungi situs sejarah. Mereka ke sana untuk belajar sejarah, keilmuan sekaligus praktik. Guru hanya menfasilitasi anak-anak didiknya yang hendak mencari dana untuk kegiatan tersebut. "Dengan cara itu anak-anak di sekolah alam juga dididik untuk mandiri," kata dia.    Â
Halaman Selanjutnya