SOROT 323

Tersuruk karena Minat Baca Buruk

1001 buku
Sumber :
  • http://www.1001buku.or.id

Praktisi penerbitan, Ade Ma’ruf mengatakan, distribusi bacaan di negeri ini masih bergantung pada stakeholder perbukuan (pemerintah, penerbit, toko buku, perpustakaan). Menurut dia, minat baca masyarakat bisa tumbuh jika bahan bacaan tersedia.

“Masalahnya bacaan tidak tersedia di semua sudut negeri ini. Dan itu karena stakeholder perbukuan belum mendistribusikannya dengan tepat,” ujar pria yang sudah malang melintang di dunia penerbitan ini.

Menurut Ade, para penerbit dan toko buku selalu berkelit di balik kalkulasi bisnis. Sementara itu, pemerintah melalui lembaga-lembaga pendidikan hanya mampu menjangkau jejaring penyedia bacaan formal, termasuk perpustakaan sekolah.

“Yang justru penting menurut saya adalah ketersediaan bacaan di luar toko buku dan perpustakaan sekolah,” kata dia.

Sulitnya akses bahan bacaan juga disampaikan 1001 Buku, sebuah komunitas yang concern menyuplai buku-buku ke taman bacaan. Ama Erithia, salah satu relawan di 1001 Buku mengatakan, salah satu alasan mendasar berdirinya komunitas 1001 Buku karena mereka melihat distribusi buku yang tak merata.

Ada sebagian orang yang tak bisa mengakses buku. Sementara itu, di sisi lain ada orang yang membiarkan bukunya tergeletak begitu saja atau hanya disimpan di lemari dan gudang.

“Menurut pengamatan kami, bukan minat bacanya yang rendah, namun akses bacanya yang kurang,” ujar karyawan swasta di salah satu konsultan pendidikan ini. 

Memulung Buku
Berawal dari kondisi itu Ama dan sejumlah temannya mendirikan komunitas 1001 Buku. Komunitas ini sebenarnya sudah diinisiasi sejak 2002. Namun, baru diluncurkan pada 10 Januari 2003.

Misi utama dari komunitas yang beranggotakan beragam kalangan ini adalah mendistribusikan bahan bacaan untuk orang-orang yang membutuhkan. Upaya itu dilakukan agar akses bahan bacaan dapat dinikmati oleh seluruh orang Indonesia secara merata. Aktivitas utama komunitas ini adalah "memulung buku".

Mereka mengumpulkan buku dari berbagai lokasi atau sumber. Kemudian, buku-buku tersebut disortir untuk kemudian dibagikan ke taman-taman baca jaringan 1001 Buku. “Selain itu, kami mengadakan dan mendukung kampanye yang berhubungan dengan literasi dan minat baca,” ujar Ama.

Taman baca tak perlu membayar, karena buku-buku tersebut dibagikan secara cuma-cuma. Juga tak ada bantuan dan campur tangan pemerintah dalam aksi ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Malaysia Resmi Laporkan Laga Timnas Indonesia Vs Bangladesh ke FIFA
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut