SOROT 323

Tersuruk karena Minat Baca Buruk

1001 buku
Sumber :
  • http://www.1001buku.or.id

img_title Usai Suyudi Jadi Kapolri, Sejumlah Jenderal Polri Langsung Dimutasi! Irwasum, Kabaintelkam hingga Kabareskrim

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Persentase masyarakat yang membaca tabloid/majalah berkurang, dari 11,26 persen pada 2006, turun menjadi 7,45 persen pada 2009, dan 6,92 persen selama 2012.
img_title Kisah Mualaf Bella, Sempat Tanya Bukankah Muslim Teroris? Endingnya Sekeluarga Masuk Islam


img_title Pantang Menyerah! Jennifer Coppen Gas Terus Netizen Malaysia yang Menghina Dirinya
Sementara itu, untuk pembaca buku cerita cenderung stabil. Pada 2006, angkanya sebesar 6,46 persen, turun jadi 4,58 persen pada 2009, dan naik lagi menjadi 5,01 persen untuk 2012. Selanjutnya, yang membaca buku pelajaran sekolah meningkat, dari 18,27 persen pada 2006 menjadi 19,13 persen selama 2009, dan 20,48 persen pada 2012.

“Untuk masyarakat yang membaca buku pengetahuan, pada 2006 angkanya sebesar 13,21 persen, 2009 angkanya 12,7 persen, dan 14,08 persen pada 2012,” ujar Deputi Bidang Statistik Sosial, BPS, Wynandin Imawan kepada VIVAnews, Kamis, 18 Desember 2014.

Chief Executive Officer (CEO) Penerbit ReneBook dan Turos Pustaka, Luqman Hakim Arifin (37), membenarkan. Menurut dia, dari sisi penjualan buku, minat baca orang Indonesia memang relatif masih rendah.

Asumsi tersebut didasarkan pada rata-rata jumlah judul buku baru yang diproduksi dan dipasarkan di Indonesia yang hanya sekitar 24.000 judul per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Artinya, dalam setahun hanya ada 72 juta buku yang diproduksi.

Bila jumlah itu dibeli dan dibaca semua (100 persen), berarti 1 buku dibaca oleh 3-4 orang. Sementara itu, standar Unicef, sebuah negara dianggap memiliki tingkat membaca yang bagus apabila 1 buku dibaca oleh 5 orang. Padahal, faktanya tidak semua buku yang beredar laku dan dibaca.

“Nah, dari sisi perbukuan, saya sepakat bahwa minat baca masyarakat kita masih rendah,” ujarnya kepada VIVAnews melalui surat elektronik.
 
Pakar pendidikan Prof. DR. Said Hamid Hasan MA menilai, budaya baca masyarakat Indonesia memang kurang. Menurut dia, sejumlah penelitian menunjukkan minat baca bangsa ini rendah. Menurut dia, hal itu terjadi karena pendidikan di Indonesia tidak melatih peserta didik untuk terbiasa membaca. Anak didik hanya sebatas membaca buku teks.

“Ini yang menyebabkan minat baca berkurang,” ujar guru besar asal Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung ini, Kamis, 18 Desember 2014.

Hal senada disampaikan pengamat pendidikan Darmaningtyas. Menurut dia, sejumlah negara mewajibkan anak didiknya untuk membaca buku. Di Thailand Selatan misalnya. Murid SMA di Negeri Gajah Putih itu wajib membaca minimal lima buku.

Sementara itu, Malaysia dan Singapura minimal enam buku. Di Brunei Darussalam minimal tujuh buku, Rusia 12 buku, Kanada 13 buku, Jepang 15 buku, Swiss 15 buku, Jerman 22 buku, Prancis 30 buku, Belanda 30 buku, dan Amerika Serikat 32 buku. Namun, dalam Kurikulum 2013 tidak ada ketentuan yang mewajibkan murid SMP dan SMA harus membaca sejumlah buku.

Pegiat literasi Faiz Ahsoul mengatakan, kebijakan dan kurikulum pendidikan di Indonesia masih mencetak siswa sekadar menjadi alat pelengkap dan tukang untuk kepentingan industri dan birokrasi pemerintahan. Bukan mendidik siswa untuk mampu berdikari dan berpikir secara kritis dan melek literasi.

Menurut dia, untuk melek literasi sebuah bangsa harus melewati tiga tahap, yaitu melek tutur, dengar, dan menyimak (audio). Tahap kedua adalah melek tradisi baca dan tulis. Dan ketiga melek audio visual dan digital.

Sebuah bangsa yang sudah melewati ketiga tahapan itu secara runtut melalui dunia pendidikan, akan melek literasi. Namun, di Indonesia, tahapan itu tak berjalan linear. Belum melalui tahap literasi langsung ke tahap audio visual.

“Tahap literasi tidak tergarap secara baik karena kebijakan pemerintah yang jongkok akan pentingnya melek literasi,” ujarnya.    

Akses Bahan Bacaan
Selain pendidikan, akses masyarakat terhadap bahan bacaan dituding menjadi salah satu penyebab rendahnya minat baca masyarakat. Menurut Said Hamid, masyarakat masih terbelenggu dengan kebutuhan dasar.

Kondisi itu menyebabkan masyarakat lebih memilih untuk membeli makan dibanding buku. Ia membantah masyarakat malas membaca. Menurut dia, masyarakat tidak malas, hanya belum terlatih dan terbiasa.

Perpusnas juga membantah minat baca orang Indonesia rendah. Kepala Humas Perpusnas Agus Sutoyo mengatakan, tiap hari ada sekitar 900 orang yang menyambangi perpustakaan untuk memanfaatkan koleksi, membaca atau sekadar mendaftar menjadi anggota. Menurut dia, yang menjadi persoalan adalah akses masyarakat terhadap bahan bacaan.

“Yang rendah bukan minat bacanya, tetapi bahan bacaan yang dibaca kurang,” ujarnya saat ditemui VIVAnews di kantornya, Kamis, 18 Desember 2014.

Ia mencontohkan, masyarakat di pedalaman sangat antusias saat kapal perpustakaan keliling menyambangi mereka. Menurut dia, saat kapal merapat, masyarakat berbondong-bondong datang, bahkan rela menunggu.

Karena, bagi masyarakat di pedalaman, bahan bacaan merupakan barang langka. Agus mengatakan, saat kapal merapat ke masyarakat, khususnya ibu-ibu langsung berebut majalah. 

“Jadi, pada saat kapal merapat di dermaga, yang dikejar majalah. Walaupun nggak banyak yang baru,” dia menambahkan.

Ia juga mengklaim, mobil perpustakaan keliling yang beredar di daerah selalu ramai dikunjungi masyarakat. Distribusi bahan bacaan juga dinilai tak merata.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut