Sumber :
- ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo
Kegagalan ini menyisakan kekecewaan dari sebagian besar pelaku olahraga di tanah air. Hal ini terkait kegagalan atlet, pelatih, dan pengurus dari mayoritas cabang untuk meraih target yang diemban sejak awal.
Secara umum, Indonesia gagal memenuhi target di Asian Games 2014. Ditarget menembus 10 besar atau minimal raih 9 medali emas, Indonesia malah finis di posisi ke-17 dengan 4 emas, 5 perak, dan 11 perunggu.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Roy Suryo, enggan menyalahkan siapa pun atas hasil ini. Hal itu menurutnya justru akan memecah belah Indonesia. Dia menilai, kegagalan ini lebih baik jadi bahan introspeksi.
"Memang targetnya 10 besar, tapi justru tercecer ke posisi 17. Mari perbaiki kesalahan yang ada dan fokus pada bidang masing-masing," kata Roy di Kantor Kemenpora pada Oktober lalu.
Mungkin sedikit hiburan dari pentas Asian Games adalah keberhasilan Timnas U-23 lolos dari fase grup alias sesuai target yang dibebankan. Tim asuhan Aji Santoso dinaungi keberuntungan dengan undian yang menempatkan di Grup E bersama Thailand, Maladewa dan Timor Leste.
Garuda Muda sukses melewati dua pertandingan awal dengan kemenangan telak atas Timor Leste (7-0) dan Maladewa (4-0) untuk lolos ke babak 16 besar. Lalu, Indonesia digasak Thailand 0-6 dalam laga terakhir grup yang sebenarnya sudah tak menentukan.
Sayangnya, undian tak memberikan keberuntungan lagi kepada Garuda Muda yang harus bertemu Korea Utara di fase knockout. Garuda Muda pun harus takluk 1-4 dari Korut sekaligus menutup langkah di babak 16 besar pentas sepakbola Asian Games 2014.
Hiburan dari pentas Asia ini adalah tercatatnya nama Ferdinand Sinaga sebagai top scorer dengan 6 gol. Bagi Ferdinand, tahun ini melengkapi kisah suksesnya kala mengantarkan Persib Bandung menjadi juara Liga Super Indonesia (ISL) usai mengalahkan Persipura Jayapura lewat adu penalti 5-3 usai hasil 2-2 di waktu normal dan perpanjangan waktu.
Ferdinand Sinaga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik ISL 2014. Bagi Persib, trofi ini sudah ditunggu sangat lama usai menjadi juara Liga Indonesia I pada 1995.
Harapan terakhir insan sepakbola Indonesia muncul di penghujung tahun lewat tim nasional Indonesia senior yang tampil di ajang Piala AFF. Euforia 2010 nyaris kembali muncul ketika tim yang kembali ditukangi Alfred Riedl ini tampil menjanjikan sepanjang uji coba.
Halaman Selanjutnya