- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
![]()
Siswa SMK Pertanian Sarimukti Garut sedang belajar merawat tanaman kentang Foto: VIVA.co.id/Mustakim
Tak Dibayar
Anti mengatakan, ia tak mendapat honor apalagi gaji. Ia mengajar secara sukarela tanpa upah dan bayaran, meski harus meluangkan waktu dan tenaga di sela-sela kuliah.
Ia mengaku mulai mengajar sejak lulus dari SMK. Bahkan saat masih di SMK, ia sudah sering berbagi ilmu dan pengetahuan dengan adik kelasnya. “Di sekolah ini kita dididik untuk mandiri. Kalau tak ada guru kita isi dengan diskusi,” ujarnya menambahkan.
Sistem belajar mengajar di SMK Pertanian Sarimukti ini memang mengedepankan dialog dibanding monolog. Menurut Anti, siswa biasa diajak berfikir kritis dan dilatih untuk berani berbicara dan menyampaikan pendapat.
Guru dan siswa juga dekat bak keluarga. Meski siswa tetap menjaga sopan santun dan etika.
Hal itu diamini Syaeful. Siswa kelas 3 SMK Pertanian Sarimukti ini mengatakan, tak ada sekat antara guru dan siswa. Selain itu, guru lebih sering mengajak diskusi dibanding menceramahi.
Sementara dari sisi pelajaran, siswa lebih banyak diajak praktek di lapangan. Karena keterbatasan guru dan fasilitas, Syaeful dan kawan-kawannya juga sering belajar secara mandiri, seperti Anti.
Namun, itu tak menyurutkan tekad Syaeful untuk menjadi petani berdasi. Ia sengaja memilih sekolah di SMK Pertanian Sarimukti karena ingin menciptakan pertanian yang modern.
Sebab, selain gratis, sekolah ini mengembangkan inovasi dalam bidang pertanian. “Saya ingin membangun desa lewat pertanian,” ujarnya bangga.
Dari Mimpi
SMK Pertanian Sarimukti berdiri sejak 2008. Sekolah ini dibangun berawal dari keprihatinan.
Masyarakat prihatin karena banyak anak-anak lulusan MTs Sururon yang tak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya karena terkendala biaya. Sebagian besar warga Desa Sarimukti merupakan buruh tani.
Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan sehari-hari saja warga kesulitan. “Sekolah ini dibangun agar anak-anak bisa melanjutkan sekolah,” ujar salah satu pendiri SMK Pertanian, Syamsudin (76).
Warga yang tak fasih berbahasa Indonesia ini mengatakan, Desa Sarimukti merupakan salah satu desa tertinggal. Salah satu penyebabnya karena sejak dulu warga sulit mengakses pendidikan.