- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
![]()
SMK Pertanian Sarimukti hanya memiliki lima ruangan. Namun, hanya ada dua hingga tiga ruang kelas yang layak untuk belajar. Foto: VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
Melawan Keterbatasan
SMK Pertanian Sarimukti hanya memiliki lima ruangan. Namun, hanya ada dua hingga tiga ruang kelas yang layak untuk belajar.
Sisanya menjadi gudang atau lapuk dimakan usia. Maklum, sebagian besar bahan bangunan berasal dari bambu dan kayu.
Kepala Sekolah SMK Pertanian Sarimukti Anas Nasihin (50) menjelaskan, meski sekolah butuh renovasi, ia tak mau menarik pungutan dari siswa. Sebab, sejak berdiri hingga saat ini sekolah yang ia pimpin tak pernah menarik biaya dari siswa.
Guru dan staf pengajar di sekolah ini juga tak menerima honor atau gaji. Sejak awal, sekolah ini memang didedikasikan untuk anak-anak desa yang tak mampu melanjutkan sekolah ke tingkat SMA karena keterbatasan biaya.
Menurut dia, sekolah ini mengkhususkan pada jurusan pertanian dan tak membuka jurusan lain. Alasannya, agar lulusan sekolah ini bisa membantu dan membangun desa.
Anas mengawinkan kurikulum pemerintah dengan pendidikan seputar pertanian. Sementara untuk sistem pembelajaran, sekolah ini mengedepankan dialog dan diskusi serta praktek di lapangan.
Ada sekitar 23 guru yang mengajar di sekolah ini. Sebagian besar guru tak memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan pelajaran yang diajarkan. “Banyak guru yang masih kuliah,” ujar Anas.
Tak ada alat peraga apalagi laboratorium. Hanya ada sepetak lahan tempat siswa belajar cara bercocok tanam dan mengembangkan teknik pertanian. Meski demikian, Anas dan para siswa tak berkecil hati.
Buktinya, sekolah ini berhasil mengembangkan budi daya kentang lewat biji. Tak hanya itu, pada tahun 2013, sekolah ini berhasil meraih Juara II Lomba Pertanian Tingkat Nasional di Bogor, Jawa Barat.
Hari menjelang siang. Puluhan siswa SMK Pertanian Sarimukti tampak berkemas dan bergegas keluar dari ruang kelas.
Beberapa di antaranya membawa cangkul. Puluhan anak ini menuju ladang untuk praktek cara merawat tanaman.
Jarak antara sekolah dan lahan cukup jauh. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk mencapai ladang yang berada di ketinggian tersebut.