SOROT 327

Menggali Ilmu di Sawah

Sekolah Pertanian SPP Al-Bayyan dan Sarimukti
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin

Mayoritas warga hanya lulus Sekolah Dasar (SD). Karena itu, warga mendirikan sekolah setingkat SMP bernama MTs Sururon.

img_title Orang Tua Murid yang Diskors Adukan Kepala Sekolah ke Polisi

Namun, masalah belum selesai. Pasalnya, banyak lulusan MTs yang tak bisa sekolah ke jenjang berikutnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Untuk itu, warga mendirikan SMK Pertanian. “Karena belum ada sekolah setingkat SMA di sini,” ujarnya menambahkan.

img_title INFOGRAFIK: Sekolah Petani

Sekolah ini murni merupakan hasil jerih payah warga. Dengan bantuan Serikat Petani Pasundan (SPP) warga bahu membahu, gotong royong membangun sekolah.

Pemerintah Desa menyumbang lahan. Warga menyumbang bahan bangunan dan tenaga. Sementara yang lain menyumbang makanan dan minuman saat proses pembangunan.

img_title Menggapai Asa dari Balik Bukit

“Mengapa pertanian dipilih, karena mata pencaharian warga adalah bertani.” Syamsudin berharap, SMK Pertanian mampu menyemai bibit-bibit generasi petani yang mumpuni. Ia ingin, generasi muda di desanya mampu meningkatkan taraf hidup dan ekonomi warga. Juga bisa memaksimalkan potensi desa.

Tokoh masyarakat setempat, Saefudin (42) menambahkan, selama ini banyak lulusan sekolah tak sesuai dengan potensi lokal. Karena potensi Desa Sarimukti adalah pertanian, maka warga mendirikan sekolah setingkat SMA yang menaruh perhatian pada pertanian.

Tujuannya, tentu saja untuk memajukan pertanian. Sebab, tak mungkin warga mengolah lahan tanpa ilmu dan pengetahuan.

Orang tua siswa yang juga ketua komite sekolah ini menjelaskan, SMK tempat anaknya sekolah tersebut merupakan hasil kerja sama antara warga dengan SPP. “Jika dirupiahkan biaya pembangunan mencapai 100 juta,” ujarnya menerangkan.

Kepala Desa Sarimukti, Rohaya Rohadi (61) berharap, sekolah milik warga tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasalnya, sampai saat ini desa yang ia pimpin masih masuk kategori desa tertinggal.

Sebagian besar warga merupakan buruh tani dengan penghasilan pas-pas an. Itu sebabnya banyak anak-anak yang putus sekolah dan memilih kawin muda atau menjadi kuli di kota. Ia mengaku, pemerintah dan desa belum bisa banyak membantu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sekolah ini tak memungut biaya. Untuk mendaftar, siswa cuma diminta membawa cangkul dan lima bibit pohon.

Meski sederhana, sekolah ini memiliki kebun untuk laboratorium tanaman. Sementara untuk mengembangkan dan uji coba pembibitan, sekolah nebeng di lokasi milik salah satu orang tua siswa.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut