SOROT 331

Deru Mobnas Tetangga

Pameran Mobil VW Klasik di Brasil
Sumber :
  • REUTERS/Paulo Whitaker

VIVA.co.id - Ingar mobil nasional kembali santer seantero negeri. Isu nyaring  itu dipergunjingkan republik ini setelah pabrikan otomotif besutan Negeri Jiran, Proton Holdings  Bhd menandatangani nota kesepahaman dengan PT Adiperkasa Citra Lestari, perusahaan yang dipimpin mantan Kepala Badan Intelijen Negara, Abdullah Mahmud Hendropriyono. Ihwalnya tentang rentetan skema pengembangan dan pembangunan pabrik otomotif di Indonesia. Cikal bakal mobil nasional alias mobnas.

Namun “cikal” ini tak mulus. Banyak kalangan menolaknya. Mulai dari rakyat biasa, DPR, tokoh masyarakat, pengusaha bahkan Walikota Solo FX Hadi Rudiyatmo yang pernah menjadi partner Jokowi di Solo, tidak setuju.  Alasannya bermacam. Mulai dari gengsi, politik balas budi, Proton tidak punya kemampuan hingga keinginan mengembangkan Esemka.

Bicara mobnas, Indonesia sebenarnya merupakan negara ASEAN pertama yang merintis proyek mobnas. Dari era mobil MR-90 yang dibesut Soebronto Laras, Texmaco Perkasa yang dikomandoi Marimutu Sinivasan hingga Timor milik Tommy Soeharto. Namun, peruntungan itu gagal. Mungkin jika dibuka selubungnya, hanya Kijang yang diterima baik di masyarakat. Sisanya, hanya tekor di bengkel.

Lalu, bagaimana dengan negara lain. Malaysia. Kita boleh meniru semangatnya mengembangkan mobnas. Fakta, Proton adalah menjadi merek mobil yang dikenal dan bisa “diterima” konsumen. Proton menetas dari gagasan salah satu orang kuat, Mahathir Mohammad, bekas perdana menteri Malaysia yang berambisi mobilnya dapat menguasai pasar otomotif dunia.

Meski penjualannya saat ini sedang seret, namun berhasil membawa Proton dikenal masyarakat dunia sebagai mobilnya orang Malaysia. "Proton adalah sebuah perusahaan otomotif yang saat ini mampu membuat kemajuan dalam penelitian dan pengembangan," ujar Mahathir Mohamad seperti dilansir Bernama.

Jatuh Bangun Proton
Bicara debut Proton, Mahathir mengaku telah melewati masa-masa sulit yang panjang. Seperti  banyak negara kebanyakan, mobnas selalu dihadapkan dengan adanya merek asing dan permintaan  kendaraan berbanderol murah.

Berdiri sejak 1983, Proton awalnya menggandeng Mitsubishi, Jepang. Lalu, perusahaan ini menggandeng Lotus, Inggris. Mitsubishi dan Lotus memasok mesin, sementara rangka bodi dan desain dikerjakan Proton.  Proton sempat meraih angka produksi satu juta unit pada 1996 dan mengakuisisi mayoritas saham dari Grup Lotus.

Bahkan pada 2001, dia menguasai pasar otomotif Malaysia hingga mencapai 53 persen. Tetapi, sejak Januari 2012, Proton di-take over DRB-HicomBerhad, karena kesulitan keuangan. Hal itu  terjadi karena kejayaan Proton yang kian memudar. Saat ini, Proton bahkan harus rela berbagi "kue" dengan kendaraan lokal Malaysia lainnya, Perodua.

Namun, masalah yang kerap dijumpainya sama dengan sejumlah mobnas di negara-negara lain. Menurut Mahathir, banyak pemburu kendaraan pasti lebih melirik merek asing yang jauh lebih baik, meskipun harga jualnya jauh lebih mahal. Masalah lain yang dihadapi adalah pemerintah berkuasa dikatakannya lebih suka mengimpor mobil dari luar ketimbang mengekspornya.

"Padahal, ketika Anda mengimpor mobil, uang mengalir keluar dan Anda tidak mendapatkan teknologi apapun dari mereka," ujar Mahathir seperti dilansir Bernama.

Masalah lain yang kerap dijumpainya yakni Proton selalu dicap sebagai mobil murah dengan kualitas rendah. Mereka pun dituntut untuk selalu mengembangkan kendaraan Proton agar lebih baik, namun dengan harga yang terjangkau. Hal itu dirasa sulit baginya.

The Economist dalam Automotive Briefing & Forecast The Economist Intelligence Unit menilai, Proton mengalami kemunduran akibat penurunan laba di saat volume penjualannya meningkat. Mulanya, kondisi Proton diperkirakan akan pulih setelah melalui masa sulit selama krisis keuangan global pada 2008-2009, dan kemudian mencetak untung pada beberapa tahun berikutnya. Ternyata tidak.

Kesalahan terbesar Proton, tulis The Economist, adalah tak banyak inovasi. Proton
bergerak lambat di tengah industri yang butuh kelincahan. "Proton hanya mampu
memperkenalkan sedikit model baru, bahkan banyak terkesan kuno dan tertinggal dari standar produsen lainnya, seperti Toyota, Honda, dan Daihatsu," tulis laporan itu.

"Sekarang kita harus bersaing dengan merek asing. Kami adalah perusahaan kecil yang mencoba untuk bersaing dengan orang-orang seperti Toyota atau Nissan. Mereka menghasilkan jutaan mobil. Jadi, sebenarnya sangat sulit bagi kami untuk bersaing dengan mereka," ujar Mahathir kepada The Edge Malaysia.

"Mereka bisa kehilangan uang di sini dan mencari uang di tempat lain. Tetapi, kita
tidak bisa kehilangan uang di sini, karena kami hanya memproduksi sedikit mobil tiap tahunnya."

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Pabrik Dibangun, Jokowi Ingin Esemka Cepat Dijual Massal
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut