SOROT 332

Sampah Bawa Berkah

Santri Ponpes Al Ashriyyah Nurul Iman sedang memilah sampah untuk didaur ulang.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mustakim

Selain itu, sampah-sampah ini juga dibuat aneka barang kerajinan. Sejumlah santri yang tergabung di dalam Divisi Kesenian mengolah sampah menjadi tas, lampion, tempat buah dan beragam jenis barang kerajinan lain.

img_title Tak Terduga! Begini Respons Menteri Pigai Soal Vonis 2 Prajurit TNI Penyiram Air Keras Andrie Yunus Dipangkas

“Kalau untuk tas dari plastik. Lampion dari koran bekas atau buku bekas,” ujar Muhamad Buchori (22) salah satu anggota Divisi Kesenian. Ia mengatakan, semua kerajinan tangan bahan bakunya berasal dari sampah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hidup dari Sampah

img_title Pasutri dan Balitanya Tewas dalam Kecelakaan Beruntun di Kembangan Jakbar

Pengasuh Ponpes Al-Ashriyyah Nurul Iman, Umi Waheeda mengatakan, lembaga pendidikan yang ia pimpin sudah menggeluti bisnis daur ulang sampah sejak pesantren berdiri 17 tahun lalu.

Awalnya, pendiri pesantren, Habib Saggaf Bin Mahdi Bin Syekh Abi Bakar Bin Salim (alm), prihatin dengan sampah yang menggunung di Pasar Parung. Pria yang akrab disapa Abah ini akhirnya mengambil sampah tersebut dan didaur ulang.

img_title Ustaz Riza Muhammad Ternyata Ditegur Istri Gegara Ngegym Pakai Baju Minim

Sampah itu dipilah kemudian dicacah atau diolah menjadi pupuk. Daur ulang sampah ini menjadi unit bisnis pertama pesantren ini.

Saat ini, ada sekitar 20 unit bisnis yang dimiliki Nurul Iman, di antaranya pabrik roti, tempe, tahu, konveksi, percetakan, perikanan, peternakan, pertanian, air heksagonal, susu kedelai, warnet dan sejumlah unit bisnis lain.

Mesin pengolah sampah di Ponpes Al Ashriyyah Nurul Iman

Mesin untuk mengolah sampah menjadi kompos dan mesin pencacah sampah plastik yang dioperasikan di Ponpes Al Ashriyyah Nurul Iman. Foto: VIVA.co.id/Mustakim

Meski sudah memiliki banyak usaha, pesantren ini tetap mempertahankan bisnis daur ulang sampah. “Bagi saya sampah adalah rezeki dari Allah. Sekarang saya punya banyak unit usaha, semuanya dimulai dari sampah,” ujar Umi Waheeda kepada VIVA.co.id.

Istri almarhum Habib Saggaf ini menuturkan, santri akan memilah sampah sesuai jenisnya. Sampah anorganik akan diolah untuk kemudian dijual ke pabrik. Sementara sampah organik akan diolah menjadi kompos.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Dari sini kami bisa bikin unit usaha pabrik tahu, tempe, percetakan, pabrik roti, susu kedelai dan unit usaha lain. Semuanya dimulai dari daur ulang sampah,” lanjut Umi.

Sampah yang diolah tak hanya berasal dari dalam, namun juga dari luar pesantren. Salah satunya dari pemulung dan Pasar Parung. Bahkan, saat ini Nurul Iman ‘memborong’ sampah dari sejumlah rumah makan dan restoran untuk didaur ulang.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut