SOROT 332

Sampah Bawa Berkah

Santri Ponpes Al Ashriyyah Nurul Iman sedang memilah sampah untuk didaur ulang.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mustakim

Hasil olahan sampah pun berkembang. Jika dulu hanya dicacah dan dibuat pupuk kompos, saat ini mereka mengembangkan Enzime Solution.

img_title Mereka Hidup dari Gundukan Sampah

“Kami sekarang punya Enzime Solution. Itu juga dari sampah, kulit sayur, kulit buah yang kami campur dengan gula merah,” ujar perempuan kelahiran Singapura 47 tahun lalu ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, Enzime Solution ini bisa menjadi pupuk. Selain itu juga bisa untuk mencuci pakaian dan membersihkan wastafel serta toilet.

img_title Denda Sampah Rp500 Ribu Tak Efektif, DKI Pakai Cara Ini

Bahkan, produk baru ini bisa untuk obat sakit kulit. Sementara, sampah dari restoran dan rumah makan akan diolah untuk menjadi pakan ikan.

“Kami punya empang 6,5 hektare. Selama ini makanannya masih alami. Kami bikin pakan ikan dari sampah rumah tangga dan restoran. Saya ga mau pakan dari pabrik. Kami ingin dari buatan tangan kami,” ujarnya.

img_title Dibuang Sayang

Umi mengaku masih kekurangan sampah untuk diolah. Ia pernah meminta agar Pemerintah Daerah Tangerang Selatan mengirim sampahnya ke Nurul Iman.

Menurut dia, banyak sampah yang berserakan di wilayah tersebut. Namun, karena alasan administrasi, rencana tersebut batal dilakukan.

Untuk itu, ia berencana memberdayakan pemulung untuk mencari dan memilah sampah. “Kita bisa gaji pemulung. Nanti kita bagi, ada pemulung yang khusus sampah organik dan anorganik. Mereka sudah pisahkan nanti kita tinggal olah,” ujarnya menjelaskan.

Perempuan yang fasih berbahasa Inggris ini menerangkan, saat ini ada 10 ribu lebih santri yang belajar di Nurul Iman. Menurut dia, pesantren tak menarik biaya sepeser pun dari santri.

Pesantren menanggung biaya hidup dan pendidikan anak-anak yang sebagian besar berasal dari keluarga tak mampu ini. Untuk membiayai mereka, pesantren memaksimalkan unit usaha yang ada di dalam pesantren.

Selain itu, pesantren juga memiliki sawah, kebun kopi, kayu dan tambang batu bara. “Kami tak ada sumbangan. Ribuan santri bisa hidup dan belajar semua dibiayai karena awalnya dari daur ulang sampah.”

Kerajinan tangan karya santri Ponpes Al Ashriyyah Nurul Iman

Tas yang terbuat dari sampah yang didaur ulang karya santri Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman. Foto: Mustakim

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sulap Masalah

Ponpes Nurul Iman tak sendiri. Sebagian warga di Yogyakarta juga berusaha mengubah sampah menjadi berkah. Warga di RW X, Kampung Gondolayu Lor, Kelurahan Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta misalnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut