SOROT 333

Meradang karena Alam

Kabut asap di Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah
Sumber :
  • Antara/ Untung Setiawan
img_title Hutan, Perubahan Iklim, dan Pembangunan Berkelanjutan
Anak-anak paling beresiko terpapar efek penyakit dari perubahan iklim.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


img_title Indonesia Hanya Jadi Pengekor Negara Maju di COP 21 Paris
Semua populasi di dunia berisiko terpapar efek penyakit dari perubahan iklim, mulai dari penduduk desa, kota kecil, metropolitan, sampai masyarakat pegunungan. Menurut WHO, yang paling berisiko adalah anak-anak, terutama yang berada di negara miskin. Demikian juga dengan orang-orang usia lanjut.



Risiko Tinggi
Menyikapi kondisi itu, pemerintah perlu waspada. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki risiko tinggi terhadap peningkatan penyakit yang disebabkan perubahan iklim.

Menurut Subuh, bukan hanya penyakit menular yang diakibatkan perubahan iklim. Penyakit tidak menular juga ada. Kelembapan wilayah karena perubahan iklim bisa memicu asma.

img_title KB Dinilai Solusi Tepat Kurangi Dampak Perubahan Iklim

Selain itu, ada malaria, infeksi saluran pernapasan (ISPA), diare, hingga kekurangan gizi. "Untuk penyakit yang terakhir itu, kekurangan gizi, tidak langsung dari perubahan iklim, tapi sebaliknya. Cuaca berubah, temperatur tinggi memengaruhi sektor pertanian, tanaman, dan bahan baku obat,”ujar Subuh.

Sayangnya, Kementerian Kesehatan mengaku hanya bisa berupaya untuk mencegah. Karena, perubahan iklim harus dilakukan oleh banyak instansi terkait, terutama organisasi dunia yang harus bersatu. Kemenkes sekadar memberdayakan masyarakat agar warga mengetahui adanya korelasi antara perubahan iklim dan penyakit.

Intinya, masyarakat diminta untuk menjaga lingkungan agar perubahan iklim tidak semakin parah. Kementerian lain juga dipastikan melakukan hal serupa. Misalnya, membudayakan penanaman pohon, penggunaan bahan anorganik, mengurangi pemakaian AC dan kulkas, cuci tangan sebelum makan, pengelolaan sampah, hingga perilaku hidup sehat.

“Kita sendiri yang harus merekayasa lingkungan itu jadi bersih. Membuat rumah sehat, bukan rumah layak huni," ujar dia.

Beda antara rumah sehat dan rumah layak huni. Rumah sehat mempunyai kriteria tertentu. "Jadi, jendela ukuran sekian, di mana letaknya, luasnya berapa, lantainya dan ventilasinya pun harus dipertimbangkan. Itu rumah sehat. Kalau rumah layak huni, satu dua jendela oke, asal bisa tinggal,” ujar dia.

Subuh melanjutkan, penyakit yang datang dalam diri seseorang dipengaruhi oleh banyak hal. Faktor lingkungan memberikan kontribusi 40 persen dalam kemunculan penyakit, sedangkan faktor perilaku dan gaya hidup berkontribusi sebanyak 30 persen.

Selebihnya, pelayanan kesehatan sebanyak 20 persen dan faktor genetik yang tidak bisa diubah itu berkontribusi sebanyak 10 persen. “Kami juga ada kerja sama lintas sektoral karena tidak bisa mengintervensi lingkungan itu sendirian, harus bersama-sama," ujarnya.

Pemerintah punya konsep dan rencana untuk aksi perubahan iklim, guna mempersiapkan pencegahan atas kerusakan yang lebih dalam. Dari sisi kesehatan dan pertanian, konsep itu dibuat bersama kementerian kehutanan dan lingkungan hidup, perdagangan, dan masih banyak lagi. "Ini bisa efektif jika tertib dilaksanakan, ditambah dengan kesadaran masyarakat,” katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut