SOROT 336

Kembalinya Piringan Hitam

Jual piringan hitam di jalan surabaya
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mohammad Nadlir

"Kami keluarkan album ini dalam dua jenis, CD dan piringan hitam. Yang CD, rilis tanggal 20 September 2014, sementara yang vinyl keluar 2 Oktober 2014," ucap Rian.

img_title Ustaz Riza Muhammad Ternyata Ditegur Istri Gegara Ngegym Pakai Baju Minim

Sebelum diluncurkan, d’Masiv membuka pre-order album piringan hitam. Hal ini, kata Rian, untuk melihat keinginan pasar. Lewat sistem pre-order tersebut, D'Masiv menjanjikan banyak kelebihan ketimbang membeli album format CD.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kalau lewat pre-order, kita kasih tas eksklusif plus tanda tangan dari semua anggota band," ujar pria kelahiran 17 November 1986 ini.

img_title Saking Mengerikannya, Media Vietnam sampai Panas Dingin Lihat Kekuatan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Tak banyak band arus utama yang mau mengambil langkah seperti d’Masiv. Alasannya tentu karena terbentur masalah dana. Seperti diketahui, belum banyak studio musik lokal, yang bisa melakoni tugas pembuatan produk ini.

Imbasnya, d’Masiv sendiri harus membuat album piringan hitam tersebut  ke Jerman, dan ini artinya pengeluaran harus bertambah.

img_title Letusan Gunung Krakatau 1883, Dampaknya Terasa hingga Berbagai Negara

Namun, hasilnya di luar dugaan. Minat fans ternyata sangat bagus. Efeknya hampir separuh vinyl yang dibuat oleh label musik mereka, Musica Studio laris manis dipesan.

“Kita hanya buat 500 piringan hitam, dan saat pre-order ternyata sudah dipesan sampai 200 keping. Harganya Rp350 ribu, dan sekarang hanya tersisa sedikit," kata Rian bangga.

Nikmatnya berburu piringan hitam
Jika Rian baru empat tahun menjadi kolektor vinyl maka lain halnya dengan Arie Legowo, pria yang bekerja sebagai manajer A & R, di label musik Warner Music Indonesia. Arie mengaku sudah 10 tahun berburu piringan hitam.

“Sebenarnya saya suka vinyl gara-gara warisan dari kakek. Dia seorang kolektor tulen, sebuah hobi yang kemudian turun ke orangtua dan paman, dan sekarang jadi turun lagi ke saya,” ujar pria asal Ujung Pandang itu.

Arie Legowo, kolektor piringan hitam

Arie mengaku sudah 10 tahun berburu piringan hitam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sama seperti Rian, Arie kini sudah mengoleksi sekitar 1.000 piringan hitam.  Koleksi tersebut didapat saat ia traveling atau ketika dinas keluar kota dan luar negeri. Di sana, ia berusaha menyisipkan waktu berburu piringan hitam ke pasar loak.

 “Jadi, keseruan berburu piringan hitam itu ada di faktor kejutannya karena kita nggak akan pernah tahu, hari itu kita akan dapat barang bagus seperti apa, dengan harga berapa,” ujarnya antusias.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut