- VIVA.co.id/Mohammad Nadlir
Sebagai contoh, saat ia pergi ke Palembang. Di sebuah pasar loak, Arie menemukan sebuah vinyl yang sangat langka dan susah sekali dicari. Ternyata, oleh sang penjual, piringan hitam itu hanya dibanderol Rp50 ribu.
“Padahal kalau yang nemu kolektor sejati, membayar jauh di atas itu pun mereka berani. Saya benar-benar kayak dapat durian runtuh saat itu,” ujar Arie.
Ia mengaku sering berburu vinyl sampai ke Singapura, Malaysia, dan Jepang. Piringan hitam termahal yang pernah ia beli di Negeri Sakura, senilai Rp1,5 juta.
Penikmat musik jazz ini mengaku memiliki banyak teman yang kebetulan punya hobi sama, senang berburu piringan hitam. Efeknya, ia jadi sering mendapat vynil dengan cara beli atau barter.
“Koleksi saya rata-rata datang dari musik era 1970-an, juga western jazz. Ya itu tadi, karena saya orangnya nggak rapi, jadi ada yang tersebar di rumah, sementara yang lain tercecer di rumah sepupu, yang juga maniak vinyl,” katanya.
Bagian dari siklus hidup
Pengamat musik Bens Leo menjelaskan, Koes Plus, Bimbo, dan Lilies Suryani, adalah contoh nama-nama musisi lawas, yang dulu sempat merekam karyanya lewat piringan hitam.
Soal vinyl kini kembali digemari anak muda, Bens sendiri mengaku cukup kaget. Ia katakan, masih penasaran kenapa tiba-tiba vinyl kembali populer di Indonesia. Namun itulah siklus hidup, di mana semuanya bisa berkembang secara dinamis.
“Saya sendiri paham, kenapa orang jadi suka vinyl, karena cakram besar itu punya suara lebih bersih, sehingga enak didengar telinga,” kata mantan wartawan musik itu.
Ia katakan, di Irlandia peminat vinyl seimbang dengan peminat CD. Ini artinya, di sana para penikmat musik cukup kritis, karena mendambakan suara bening dari sebuah music player.
Bens sendiri menyayangkan kenapa saat ini Indonesia belum bisa menciptakan produk vinyl-nya sendiri. Alhasil, artis lokal harus terbang jauh ke Jerman untuk merilis album berbentuk piringan hitam.
Menurut Bens, Jerman memang sejak dulu memang yang dikenal sebagai penghasil piringan hitam. Buktinya, sejumlah negara di Eropa dan Amerika juga masih mengimpor vinyl dari sana.